Share

Keistimewaan Jenderal Soedirman, Tetap Berperang Bela Indonesia Walau Sakit Parah

Alyssa Nazira, Okezone · Rabu 02 Maret 2022 13:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 02 337 2555238 keistimewaan-jenderal-soedirman-tetap-berperang-bela-indonesia-walau-sakit-parah-T2TiPVMjG5.jpg Jenderal Soedirman ditandu saat berperang karena sedang sakit (Foto: ist)

JAKARTA - Raden Soedirman, atau yang biasa disapa dengan Jenderal Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah. Ia merupakan anak dari pasangan Karsid Kartawijaya, yang merupakan seorang pekerja di pabrik gula di Kalibagor, dengan Siyem yang merupakan keturunan Wedana Rembang.

Jenderal Soedirman merupakan seorang perwira tinggi di Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Dalam catatan perjuangan kemerdekaan Indonesia, ia tercatat sebagai salah satu pahlawan yang sangat dicintai dan dikagumi oleh rakyat Indonesia. ia merupakan panglima besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama. 

Baca Juga: Perang Rusia vs Ukraina Mengingatkan Anak-Anak Raja Airlangga yang Saling Caplok

Sosok yang dikenal sangat berwibawa dan hidupnya yang sederhana pun membuat Jenderal Soedirman semakin dikagumi. Keistimewaan Jenderal Soedirman lainnya, ialah perannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia memilih masuk ke hutan untuk bergerilya melawan pasukan Belanda, meskipun kondisinya saat itu sedang tidak sehat.

Jenderal Soedirman merupakan seorang pemimpin perang gerilya yang mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, walaupun ia menderita penyakit paru-paru (TBC).

Mendengar pernyataan Belanda yang menyatakan secara sepihak bahwa mereka sudah tidak terikat dengan perjanjian Renville, serta menyatakan penghentian gencatan senjata, membuat Jenderal Soedirman tidak bisa tinggal diam.

Baca Juga: Batu Lonceng di Lembang, Peninggalan Raja Padjadjaran Konon Bisa Bunyi Sendiri

Pada 19 Desember 1948, Jenderal Simons Spoor, seorang panglima tentara Belanda, memimpin Agresi militer ke II, dan menyerang Yogyakarta yang pada saat itu menjadi ibu kota Indonesia.

Saat itu, Belanda berhasil menahan Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, dan hampir seluruh menteri. Beruntungnya, mereka tidak berhasil menangkap Jenderal Soedirman, karena saat pasukan Belanda mengepung Istana, ia telah berangkat bersama para pasukannya untuk memulai perang gerilya.

Jenderal Soedirman menolak tawaran dari Presiden Soekarno untuk bersembunyi di dalam kota sembari menunggu sakit TBC yang dideritanya sembuh. Dengan keadaan yang jauh dari kata sehat itu, Jenderal Soedirman menunjukkan tekadnya sebagai panglima pemimpin pasukan.

Dengan diangkat menggunakan sebuah tandu, akhirnya Jenderal Soedirman melakukan perang gerilya melalui hutan. Hanya dengan satu paru-paru, ia dan pasukannya harus menempuh perjalanan panjang, menaiki dan menuruni gunung, hingga keluar masuk hutan demi menghindari serangan dari pasukan Belanda.

Meski sedang sakit, perjuangannya bersama para pasukannya saat itu tidak sia-sia. Dengan taktik dan strategi yang diberikannya kepada para pasukannya, ia berhasil membuat pihak Belanda kebingungan karena adanya serangan yang secara tiba-tiba.

Jenderal Soedirman juga telah menyiapkan sebuah serangan yang telah ia pikirkan dan rencanakan dengan matang. Serangan yang dilakukan secara serentak di wilayah Indonesia, pada 1 Maret 1949 pagi itu, dikenal sebagai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. 

Berkat perjuangan dan jasa Jenderal Soedirman yang tak kenal kata menyerah, dan strategi perangnya yang baik, hingga dapat memotivasi para pasukannya, ia berhasil membuat pihak Belanda terusir dari Indonesia.

Itulah keistimewaan sosok Jenderal Soedirman, yang memiliki kharisma besar, dan memilih tetap setia kepada bangsa, serta para pemimpinnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini