Share

Kisah Sunan Ampel, Pangeran dari Cempa yang Ditugasi Raja Majapahit Perbaiki Akhlak Pejabat

Alvin Agung Sanjaya, Okezone · Rabu 02 Maret 2022 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 01 337 2554727 kisah-sunan-ampel-pangeran-dari-cempa-yang-ditugasi-raja-majapahit-perbaiki-akhlak-pejabat-bcCFMGu4BS.jpeg Sunan Ampel. (Foto: Istimewa/Wikipedia)

SAYYID Ali Rahmatullah adalah nama asli dari Sunan Ampel, dalam Babad Jawa ia lebih dikenal dengan nama Raden Rahmat.

Saat itu Sayyid Ali Rahmatullah menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban. Sejak saat itu, gelar pangeran dan raden disematkan kepadanya. Raden Rahmat, demikian beliau kemudian dikenal.

Pada tahun 1401 Masehi Raden Rahmat lahir di Cempa (Thailand). Ayahnya adalah Ibrahim AL-Ghazi seorang ulama besar dari Samarqandi di Rusia Selatan yang menikah dengan Dewi Chandrawulan putri dari Kerajaan Cempa saat itu.

Di tahun-tahun Raden Rahmat beranjak remaja, ia memang telah lama hendak mengikuti jejak ayahnya dan kakeknya Syeikh Jamalluddin Jumadil Kubra dalam menjalankan syiar dakwah agama Islam.

 Baca juga: Kisah Sunan Ampel Menghidupkan Lagi Mbah Sholeh Sampai 9 Kali

Kedua orang itu, ayah dan kakeknya, benar-benar merupakan tauladan yang baik bagi Raden Rahmat. Sebab, keduanya telah berani mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya serta segala yang ia miliki demi terwujudnya syiar agama Islam.

Cita-cita menyiarkan agama Islam itu terwujud saat Raden Rahmat mendapatkan undangan kehormatan Prabu Brawijaya V untuk mengatasi kebobrokan akhlak-moral bagi para nayaka praja dan putra-putri kaum bangsawan Majapahit.

Radeh Rahmat tidak berpikir dua kali untuk berangkat, karena melihat pengalaman ayah dan kakeknya yang terbilang berhasil menyiarkan agama Islam di tanah Jawa.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Jawa ditemani ayahnya dan kakaknya Sayyid Ali Murtala.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel terkenal dengan metode dakwahnya yang cukup unik yaitu Ia membuat kerajinan tangan berupa kipas dengan bahan akar tumbuhan dan anyaman rotan. Konon katanya kipas itu bukan kipas sembarangan, tapi juga bisa digunakan untuk menyembuhkan demam dan batuk

Kipas-kipas buatannya lalu dibagikan kepada masyarakat secara gratis. Masyarakat yang ingin mendapatkan kipas cukup mengucapkan kalimat syahadat tanpa membayar sepeserpun. Dari situlah awal mula masyarakat memeluk agama Islam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini