Share

Galaunya Prabu Brawijaya V atas Kondisi Kerajaan Majapahit: Apa yang Mesti Aku Lakukan?

Alvin Agung Sanjaya, Okezone · Senin 28 Februari 2022 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 27 337 2553889 galaunya-prabu-brawijaya-v-atas-kondisi-kerajaan-majapahit-apa-yang-mesti-aku-lakukan-MjHfzq5jpL.jpeg Prabu Brawijaya V. (Foto: sangpencerah.id)

JAKARTA - Masa akhir kekuasaan Majapahit sebenarnya telah terasa ketika banyak masalah-masalah yang timbul dari lingkungan istana Majapahit sendiri.

Masalah yang muncul sangatlah fatal yaitu gagalnya para Brahmana, Pandhita dan Resi menyelesaikan permasalahan kemerosotan moral para pejabat dan putra putra pembesar Majapahit. Hal ini membuat Raja Majapahit terakhir yaitu Prabu Brawijaya V, atau yang juga dikenal sebagai Kertabhumi merasa resah dan tidak tenang.

BACA JUGA: Senjakala Kerajaan Majapahit di Bawah Kepemimpinan Raja Brawijaya V 

Untungnya masalah lain penanganan di bidang pertanian sedikit mengalami kemajuan. Setidaknya, para punggawa Majapahit telah berhasil membuat sistem pengairan yang lebih baik daripada sebelumnya, sehingga pesawahan rakyat dapat digarap lagi. 

Tentu, keberhasilan di bidang pertanian tak sebanding dengan kebobrokan atau kebejadan moral yang menimpa para bangsawan dan nayaka praja Majapahit. Urusan jiwa manusia jelas lebih penting ketimbang persoalan jasmaniyah! Melihat kenyataan itu, Raja Majapahit pun dirundung duka-nestapa bukan alang-kepalang.

Prabu Brawijaya V menyampaikan kegundahan hatinya dengan permaisuri nya yaitu Ratu Dewi Dwarawati.

"Betapa sedihnya hatiku melihat kebobrokan moral para nayaka praja dan putra-putri pejabat Majapahit, aku telah memerintahkan untuk mengundang pandhita, brahmana dan resi untuk menggembleng pendidikan moral kepada mereka, tetapi apa hasilnya? Mereka tetap tidak mau mengindahkan norma-norma kesusilaan, bahkan berperilaku seperti binatang." tegas Prabu Brawijaya V seperti dikutip dari buku “Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit”.

Ratu Dewi Dwarawati melihat kegundahan hati suaminya. Sang permaisuri segera mendekat kepada suaminya seraya mengatakan, "Bersabarlah Kanda Prabu, memang demikian berat tugas yang mesti Kanda Prabu jalankan dalam situasi seperti ini."

"Tetapi aku harus bagaimana? Apa yang mesti aku lakukan dalam situasi genting seperti ini?" kata Prabu Brawijaya V.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Nampaknya, yang bertanya maupun yang ditanya sama-sama larut dalam persoalan yang sedang dihadapi Majapahit.

Tiba-tiba, Sang Permaisuri mengutarakan isi hatinya, "Sekarang saya baru ingat....!" Ratu Dwarawati sambil memperbaiki posisi duduknya.

"Iya Kanda Prabu, saya teringat terhadap keponakan saya, Sayyid Rahmat alias Raden Ali Rahmatullah dari Negeri Cempa (Thailand), mohon kiranya Kanda Prabu mengundang dia (Raden Rahmatullah), karena ia sangat ahli dalam urusan mengajar tentang akhlak-moral." ujar Sang Ratu.

Prabu Brawijaya terdiam berpikir sambil mengingat-ingat juga tentang Raden Ali Rahmatullah. "Dulu, saat saya singgah ke Negeri Cempa, dia (Raden Rahmat) kan masih kecil dan belum bisa apa-apa?"

"Itu kan dulu..! Tetapi setelah ia tumbuh menjadi dewasa, berdasarkan kabar yang saya dengar dari saudaraku Chandrawulan, Raden Rahmat memang jagonya dalam urusan membenahi kebobrokan akhlak-moral." ungkap Sang Ratu.

"Iya...ya...Raden Rahmat itu kan putra Syaikh Ibrahim Asmarakandi alias Ibrahim Al-Ghazi dan cucu Syaikh Jamalluddin Jumadil Kubra? Mereka adalah ulama besar yang tak diragukan lagi kemampuannya," jelas Prabu Brawijaya V.

Prabu Brawijaya V pun langsung percaya atas saran dari Permaisurinya itu bahwa Raden Rahmat akan mampu menjalankan tugas berat tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini