Share

Ketika Hoegeng Dipanggil Koko dan Dibentak Tentara

Alyssa Nazira, Okezone · Sabtu 26 Februari 2022 10:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 25 337 2553011 ketika-hoegeng-dipanggil-koko-dan-dibentak-tentara-wmjrySdd7e.jpg Hoegeng dan istri. (Foto: Repro/MPI)

JAKARTA - Koko atau Koh begitu kadang dia dipanggil, pria kelahiran 14 Oktober 1921 yang memiliki wajah yang mirip seperti orang China itu memiliki nama asli Hoegeng Imam Santoso. Namun siapa sangka, Hoegeng yang memiliki wajah seperti orang China, dan banyak orang yang memanggilnya Koko atau Koh, ternyata sama sekali tidak memiliki darah atau keturunan China.

Nyatanya, kedua orang tua Hoegeng berasal dari Jawa Tengah. Ayahnya yang merupakan seorang ambtenaar atau pegawai pemerintah Hindia Belanda, yang juga pernah menjadi seorang jaksa, berasal dari Pekalongan. Sedangkan ibunya berasal dari Tegal.

Mengutip dari Buku Hoegeng Polisi dan Menteri, pernah suatu saat, tepatnya di sore hari ketika Hoegeng dengan baju koko bergaya Shanghai yang melekat ditubuhnya sedang mengendarai jeep Willis miliknya dari arah Kebayoran Baru menuju rumahnya di Menteng, secara tiba-tiba ada seorang tentara yang menghentikannya untuk menumpang ke suatu tempat, saat itu ia sedang berada di kawasan jalan Sudirman di sekitar Jembatan Semanggi.

Hal tersebut terjadi tak lama setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dihentikan atau dicegat oleh satu hingga dua tentara merupakan hal yang biasa pada masa itu.

Jadi tidak heran apabila sedang di jalan, lalu ada tentara yang mencegat, sama seperti apa yang Hoegeng dan mobilnya alami. Apalagi Hoegeng memiliki wajah seperti orang China, nampaknya hal tersebut jugalah yang menjadi penyebab mobil Hoegeng dihentikan.

Setelah tentara tersebut duduk di samping Hoegeng, tentara tersebut menyapanya, “Koh, saya ikut menumpang ya,” yang dijawab dengan anggukan oleh Hoegeng. Tidak sampai disitu, sang tentara bertanya dengan nada yang membentak, “Siapa namamu?”, Hoegeng pun menjawab “Saya Hoegeng”.

Sang tentara yang menumpang di mobil Hoegeng pun melirik ke arah Hoegeng. Tak disangka, setelah melirik ke arah pengendara mobil yang ditumpanginya itu, seketika sang tentara merasa malu dan meminta untuk diturunkan sebelum sampai di tempat tujuannya. Mungkin tentara tersebut tidak asing dengan sosok Hoegeng.

“Mengapa harus turun di sini? Mari Hoegeng antar ke tempat tujuan,” ujar Hoegeng dengan senyuman di wajahnya. Namun sang tentara tidak menjawab, ia malah buru-buru turun sambil mengucapkan terima kasih kepada Hoegeng, tanpa berani melihat wajah Hoegeng lagi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini