Share

Aturan Menag Soal Pengeras Suara, PBNU Bakal Sosialisasikan ke Takmir Masjid

Widya Michella, MNC Media · Selasa 22 Februari 2022 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 22 337 2551118 pbnu-bakal-sosialisasikan-se-menag-soal-penggunaan-pengeras-suara-di-masjid-dpDuNmoWhV.jpg Illustrasi (foto: dok Okezone)

JAKARTA - Ketua PBNU, Ishfah Abidal Aziz mengatakan, pihaknya akan segera mensosialisasikan Surat Edaran (SE) Nomor 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala yang diterbitkan oleh Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas kepada Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU) di seluruh Indonesia.

Menurutnya, SE Menag tersebut dapat menjadi himbauan dan dipahami dengan penuh dampak husnudzon guna kebaikan bagi seluruh umat Islam di Indonesia.

"Di PBNU ada lembaga namanya Lembaga Takmir Masjid NU, nanti melalui lembaga ini kita akan sampaikan ketentuan yang diatur oleh pemerintah melalui Kementerian Agama. Utamanya Masjid dan Mushala yang dimiliki oleh NU di tingkat kepengurusan," kata Ishfah saat dihubungi MNC Portal, Senin (21/2/2022).

 BACA JUGA:Soal SE Menag Terkait Pengeras Suara Masjid, MUI: Upaya Wujudkan Kemaslahatan Beribadah

"Hal ini tentu kita akan sampaikan dan sosialisasi kan surat edaran Menteri Agama tersebut. Jadi agar dapat dilaksanakan, tentunya akan kita rumuskan secara teknis dan kita sampaikan kepada struktur NU melalui lembaga takmir masjid NU itu," sambungnya.

Pria yang juga merupakan Stafsus Menteri Agama ini mengatakan, SE tersebut diatur guna meningkatkan kenyamanan dan harmonisasi antar umat beragama di Indonesia.

 BACA JUGA:Atur Pengeras Suara di Masjid dan Musala, Menag: Sebagai Upaya Tingkatkan Keharmonisan

Misalnya pada bulan ramadhan setelah shalat tarawih dilakukan tadarus Al-Qur'an menggunakan pengeras suara ke luar. Namun pada aturan ini masyarakat dapat melakukan tadarus hingga pukul 22.00, setelah waktu itu pengelola masjid atau mushala dapat menggunakan pengeras suara ke dalam.

"Karena kalau selalu menggunakan pengeras suara di luar bisa jadi atau mungkin juga warga sekitar perlu waktu istirahat. Saya kira hal tersebut untuk kebaikan," kata dia.

Kemudian pada aturan ini juga mengatur ketentuan volume pengeras suara paling besar 100 dB (seratus desibel). Hal ini lanjutnya agar syiar dan dakwah Islam dapat diterima dengan nyaman oleh masyarakat dan umat disekitarnya.

"Nah ini standar bagaimana kita mampu mendengar dengan nyaman dan mendengar dengan enak, berbagi siar yang disampaikan masjid ataupun mushala terdekat baik itu pembacaan Alquran maupun azan dan seterusnya," bebernya.

Oleh karena itu, ia mengimbau tidak hanya warga Nahdliyyin saja, melainkan kepada seluruh umat Islam untuk mencermati, memahami dan melaksanakan seperti SE menteri agama tersebut.

"Saya kira kalau dibaca dengan baik, penuh prasangka baik dan husnudzon semua yang dimaksud SE tersebut baik. Karena itu untuk membangun kebersamaan, kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini