Share

Konflik Rusia dan Ukraina Makin Memuncak, Baca News RCTI+

Tim Okezone, Okezone · Selasa 15 Februari 2022 11:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 15 337 2547437 konflik-rusia-dan-ukraina-makin-memuncak-baca-news-rcti-0oZIsR1cL1.jpg RCTI Plus.

JAKARTA - Perseteruan antara Rusia dan Ukraina dari hari ke hari semakin mengkhawatirkan. Bahkan, informasi intelijen Amerika Serikat menyebut Rusia bakal melakukan agresi ke Ukraina dalam waktu dekat. Situasi bertambah tegang karena di belakang Ukraina ada NATO yang siap membelanya. Akankah terjadi perang? Baca selengkapnya News RCTI+ yang akan terus merekam setiap perkembangan menarik dari krisis di Ukraina tersebut.

Ketegangan yang mulai terjadi antara Ukraina dan Rusia sejak Desember 2019 lalu, menjadi perhatian warga dunia. Dua negara tersebut pun telah mengerahkan pasukan dan kekuatan militernya di sepanjang perbatasan. Sumber intelijen baik dari Amerika Serikat maupun Eropa mengingatkan perang antara Ukraina dan Rusia siap meletus kapan saja.

Minggu pagi (13/2/2022) Pemerintah Australia mengumumkan telah mengevakuasi para staf kedutaan besar besarnya di Kiev, Ukraina. Ini dilakukan terkait eskalasi keamanan antara Rusia-Ukraina yang meningkat cepat. Negeri Kanguru juga meminta warganya untuk segera meninggalkan Ukraina.

Australia mengikuti negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa lainnya termasuk Rusia yang telah lebih dulu mengosongkan kantor kedutaannya di Kiev. Menarik staf kedutaan, para diplomat beserta keluarganya dari Ukraina. Amerika pada Sabtu (12/2/2002) juga menyerukan kepada warganya untuk sesegera mungkin meninggalkan Ukraina.

Dari laporan intelijen Amerika melalui citra satelit, terlihat Rusia sejak Desember mulai mengerahkan kekuatan militernya di wilayah perbatasan dengan Ukraina. Diperkirakan Rusia telah menempatkan pasukannya sebanyak lebih dari 120 ribu tentara. Termasuk juga menempatkan tentaranya di Belarus. Seperti diketahui Belarus memiliki wilayah perbatasan yang sangat panjang dengan Ukraina. Belarus juga merupakan sekutu Rusia.

 Baca juga: Kisah di Balik Konflik Rusia-Ukraina

Dalam menghadapi agresi Rusia, Ukraina tidak sendiri. Negara yang memisahkan diri dari Uni Soviet pada 1991 mendapat dukungan dari Amerika dan NATO. Bahkan Amerika telah menempatkan pasukan sebanyak 3000 tentara di Polandia. Polandia merupakan anggota NATO sekaligus juga tetangga terdekat Ukraina.

Konflik antara Rusia dan Ukraina sebenarnya sudah terjadi sejak negara Uni Soviet pecah (1991). Rusia sepertinya tidak rela Ukraina berdiri sendiri menjadi negara berdaulat. Kedekatan budaya dan sumber daya alam yang dimiliki Ukraina, jadi salah satu alasan Rusia masih ingin menguasai Ukraina.

Ukraina sendiri telah mengalami dua kali revolusi, tahun 2005 dan 2014. Rusia dituding berada dibalik gejolak politik di Ukraina. Saat revolusi di tahun 2014, Presiden Ukraina Viktor Yanukovych dilengserkan. Kondisi kacau di Ukraina ini dimanfaatkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin mencaplok Cremia, wilayah otonomi Ukraina yang terletak di Semenanjung Laut Hitam. Perang pun tak terhindari antara pasukan Rusia dan kelompok-kelompok separatis Cremia yang didukung Ukraina.

Melalui referendum, Cremia pun jatuh ke pelukan Rusia. Namun hingga kini agresi Rusia itu tidak diakui oleh PBB. Sejak itu pula berbagai perundingan digelar untuk mengakhiri konflik (2014-2019) di Cremia.

Tahun lalu Rusia merasa kesal, karena Ukraina mulai menjalin kerjasama dengan NATO. Ada indikasi negara ini juga ingin menjadi anggota pakta pertahanan negara-negara Eropa itu. Inilah yang kemudian memicu amarah Putin hingga mengerahkan pasukan militernya ke Ukarina. Pengamat militer meyakini pengerahan kekuatan militer Rusia ke Ukraina ini merupakan yang terbesar sejak era Perang Dingin.

Lalu apa yang akan terjadi jika perang antara Ukraina-Rusia pecah? Tentu saja dampaknya akan dirasakan oleh negara-negara lain di dunia termasuk Indonesia. Perang belum dimulai saja, harga minyak terus terkerek naik. Ini jelas memengaruhi Indonesia. Pasalnya untuk memasok kebutuhan energi primer sebagai penggerak roda ekonomi, Indonesia masih harus mengimpor BBM sebanyak 250 ribu hingga 300 ribu barrel per hari. Indonesia juga masih mengandalkan impor LPG sebanyak 70% dari kebutuhan nasional.

Perang ini juga diyakini akan memengaruhi nilai tukar USD terhadap mata uang lainnya di dunia, termasuk juga dengan rupiah. Sementara itu, Tim Riset Bloomberg Intelligence memperkirakan perang yang melibatkan Rusia, Ukraina dan para sekutunya itu berpotensi menimbulkan efek kupu-kupu terhadap kenaikan harga komoditas. Minyak dan gas, gandum, nikel dan industri logam termasuk alumunium, hingga batu bara adalah beberapa komoditas yang diramal terus naik apabila ketegangan memburuk.

Akankah perang antara Rusia dan Ukraina benar-benar bakal terjadi? Bagaimana dampak perang tersebut terhadap masa depan perdamaian dunia? Akankah NATO benar-benar terjun membela Ukraina? Bagaimana keterlibatan China dalam ketegangan yang muncul di krisis Ukraina ini? Akankah China mendukung Rusia jika NATO benar-benar turun tangan membantu Ukraina? Bagaimana peran Indonesia dalam ketegangan tersebut? Pantau perkembangan terbaru krisis Ukraina ini di News RCTI+ yang akan terus memberitakan konflik ini secara update dan lengkap.

Sebagian pengamat militer juga menilai perang di Ukraina ini sebenarnya merupakan setingan dari negara-negara besar untuk memulihkan ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19. Selama pandemi yang telah berlangsung selama dua tahun ini menyebabkan ekonomi dunia terpuruk. Butuh gebrakan besar untuk bisa mengairahkan kembali ekonomi dunia. Perang dalam skala besar yang melibatkan banyak negara diyakini akan bisa mendongkrak lesunya ekonomi dunia akibat pandemi. Benarkah begitu? Simak terus News RCTI+.

News RCTI+ selalu menampilkan berita-berita internasional yang menarik terutama yang berdampak bagi Indonesia. Didukung oleh 89 publisher, news aggregator di bawah naungan MNC Group ini akan memberitakan seputar konflik Rusia dan Ukraina secara lengkap dan terkini.

"News RCTI+ terus berkomitmen untuk memberitakan berbagai fenomena menarik, berdampak luas dan menjadi perhatian publik. Berita-berita internasional banyak diminati oleh pembaca,’’ kata Co-Managing Director RCTI+, Valencia Tanoesoedibjo. Dia berharap News RCTI+ bisa menambah pengetahuan, hiburan sekaligus sumber inspirasi bagi masyarakat atas informasi penting yang disampaikan setiap hari.

Sebanyak 89 publisher menyuplai ribuan berita setiap hari ke News RCTI+ dalam berbagai isu di segala bidang. Ribuan berita tersebut ditampung dalam 14 kategori atau kanal. Yaitu, Berita Utama, Terkini, Populer, Otomotif, Travel, Ekonomi, Gaya Hidup, Muslim, Seleb, Teknologi, Olahraga, Global, Nasional, dan Infografis. News RCTI+ juga sudah menyediakan Topik Menarik untuk memudahkan pembaca mencari kumpulan berita menarik yang disukainya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini