Share

Kisah Heroik Rakyat Sulut Pertahankan Kemerdekaan Dalam Peristiwa Merah Putih

Tim Okezone, Okezone · Selasa 15 Februari 2022 00:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 15 337 2547280 kisah-rakyat-sulut-pertahankan-kemerdekaan-dalam-peristiwa-merah-putih-QzMrd0IpGz.jpg Peringatan upacara peristiwa merah putih di TMP Kalibata

PERISTIWA Merah Putih di Manado merupakan peristiwa penyerbuan markas militer Belanda yang berada di Teling, Manado pada tanggal 14 Februari 1946 atau tepat 76 tahun silam. Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, adalah fakta sejarah yang paling sering dilupakan dan dikecilkan.

(Baca juga: Mengenang Peristiwa Patriotik Merah Putih 14 Februari 1946)

Pertempuran heroik ini melibatkan berbagai kelompok di Sulawesi Utara, seperti kalangan pribumi, barisan pejuang, dan laskar rakyat berusaha merebut kembali kekuasaan atas Manado, Tomohon, dan Minahasa yang ditandai dengan pengibaran bendera merah putih di atas gedung tangsi militer Belanda.

Peristiwa tersebut merupakan bentuk perlawanan rakyat Sulawesi Utara untuk mempertahankan kemerdekaannya serta menolak atas provokasi tentara Belanda yang menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 hanya untuk Pulau Sumatera dan Jawa semata.

(Baca juga: Kisah Heroik Jenderal Kopassus Habisi Jagal Poso di Hutan Gunung Biru)

Saat itu, tentara sekutu sebagai pemenang perang dunia ke 2, datang ke Sulawesi Utara bersama dengan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Kedatangan mereka bermaksud untuk merebut kembali daerah kekuasaan Belanda di Sulut setelah dikuasai oleh Jepang.

Untuk mengenang peristiwa itu, Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani menghadiri upacara Peringatan 76 Tahun Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 , di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Utama Kalibata, Jakarta Selatan.

Dikatakan Benny, perang pada zaman dahulu menggunakan darah dan air mata, sedangkan di zaman kemajuan teknologi informasi, perang dengan senjata telah berevolusi menjadi perang ideologis yang disebarkan melalui media yang tidak bertanggung jawab.

"Sekali kita lengah, maka Ideologi Pancasila kita akan direnggut, diganti dengan ideologis sampah yang egoistis, ideologi yang menimbulkan rasa benar sendiri, mematikan toleransi, dan membunuh Bangsa kita Indonesia, secara pelan-pelan dari dalam," kata dia.

Benny melanjutkan, saat ini kita menikmati hidup di zaman merdeka. Semua ini berkat darah dan air mata para pahlawan yang berbeda suku, agama, etnis dan budaya. “Ingat kata-kata Soekarno. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, Jasmerah!” tuturnya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Setelah selesai berlangsungnya upacara, Benny menyempatkan diri untuk berziarah dan menabur bunga ke makam para Pahlawan Nasional, didampingi oleh para anak cucu dari tokoh Pahlawan tersebut.

“Alexander Andries Maramis, salah satu Pahlawan Nasional kelahiran Manado, anggota dari Panitia Sembilan. Panitia ini ditugaskan untuk merumuskan dasar negara yang akhirnya menjadi prinsip ideologis Pancasila, tanpa beliau, kita mungkin tidak bisa hidup di masa ini," kata Benny yang memberi penghormatan dengan mencium batu nisan A.A. Maramis.

Tidak luput upacara tersebut juga dihadiri oleh Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih (GPPMP), Gerakan Perempuan Merah Putih Indonesia (GPMPI), Gerakan Angkatan Muda Merah Putih Indonesia (Garda Merah Putih) dan lain sebagainya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini