Share

Kala Hoegeng Gebrak Meja Dikritik Putranya: God Verdomme!

Fay Cilla, Okezone · Selasa 15 Februari 2022 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 14 337 2547228 kala-hoegeng-gebrak-meja-dikritik-putranya-god-verdomme-h8uo8Ua68F.jpeg Hoegeng. (Foto: Istimewa)

HOEGENG Iman Santoso atau Hoegeng begitulah panggilannya semasa hidup. Dia merupakan sosok teladan bagi Polri hingga saat ini. Ia juga sempat menjabat sebagai Kapolri ke-5 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto jaman Orde Baru.

Di balik sosok Hoegeng yang tegas ia juga merupakan seorang kepala keluarga yang tegas. Pernikahannya dengan Meri istrinya membuahkan tiga anak yaitu Reni Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, dan Sri Pamujining Rahayu.

Mungkin jika membahas Hoegeng dengan cerita ia yang selalu menolak pemberian apapun terkait jabatannya sudah tidak asing lagi. Namun ada cerita menohok saat ia menjadi Kapolri.

Saat Hoegeng menjadi Kapolri, ia sempat mengatur lalu lintas saat jalanan di Jakarta sedang macet. Ceritanya saat itu di SMA Negeri 4 Jalan Batu, Jakarta, Didit anak laki-laki Hoegeng sempat diceritakan teman-temannya yang melihat ayahnya mengatur lalu lintas di jalan raya.

 Baca juga: Hoegeng Marah Besar ke Anaknya Gara-Gara Mobil Dinas, Endingnya Sungguh di Luar Dugaan

Didit yang mendengar cerita tersebut merasa malu karena ayahnya saat itu adalah Kapolri, tetapi masih mengatur lalu lintas di jalan. Saat makan malam, Didit meminta ayahnya untuk tidak mengatur lalu lintas di jalan raya saat makan malam. Hoegeng yang mendengar sontak marah dan menggebrak meja. Kejadian itu sebagaimana dikutip dalam buku ‘Hoegeng Polisi dan Mentri’ tulisan Suhartono.

“Kan sudah ada petugas yang mengaturnya, Pap,” protes Didit.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Namun sambil menggebrak meja makan, Hoegeng berkata “God Verdomme! Jadi, kamu malu Papimu mengatur lalu lintas di jalan raya?”

Didit diam saja. Hoegeng kemudian menjelaskan, “Sebagai Kapolri, Papi tidak bisa membiarkan jalanan macet, padahal petugas belum datang. Papimu ini, meskipun Kapolri, juga seorang polisi. Jadi, wajib, kalau di jalan raya terjadi kemacetan, papimu harus turun membantu. Jangan menunggu petugas polisinya datang. Mengerti kamu?!” tegas Hoegeng.

Begitulah Hoegeng menanggapi Didit karena kewajibannya tidak hanya sebagai Kapolri tetapi ia jugalah seorang polisi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini