Share

Hoegeng Marah Besar ke Anaknya Gara-Gara Mobil Dinas, Endingnya Sungguh di Luar Dugaan

Fay Cilla, Okezone · Kamis 10 Februari 2022 06:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 09 337 2544681 hoegeng-marah-besar-ke-anaknya-gara-gara-mobil-dinas-endingnya-sungguh-di-luar-dugaan-OZteSDTgeE.jpeg Hoegeng. (Foto: Istimewa)

HOEGENG Iman Santoso atau Hoegeng panggilannya adalah sosok teladan bagi polisi hingga saat ini. Ia sempat menjabat sebagai Kapolri ke-5 masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Tak hanya sebagai Kapolri, ia juga sempat menjadi Mentri Iuran Negara dan Kepala Jawatan Imigrasi. Selama jabatan yang diembannya, ia selalu menerapkan gaya hidup sederhana, jujur dan disiplin. Bahkan saat menjadi Kapolri, ia tak malu untuk turun ke jalan mengatur lalu lintas karena petugas belum tiba di lokasi.

Namun di balik sosok tegasnya, ia juga merupakan seorang kepala keluarga yang sangat penyayang. Pernikahannya dengan Meri membuahkan tiga anak yaitu Reni Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng dan Sri Pamujining Rahayu.

Ada beberapa kisah di balik ketegasan Hoegeng dan komitmen yang ia terapkan pada keluarga kecilnya. Salah satunya adalah saat Didit anak keduanya telat mengembalikan mobil dinas Hoegeng, sebagaimana dari buku ‘Buku Hoegeng Polisi dan Mentri’.

Saat itu menjelang UN (ujian negara) SMA, Didit meminta izin ayahnya untuk meminjam mobil dinas. Alasannya, Didit akan belajar bersama dengan teman-temannya di rumah salah seorang rekannya. Hoegeng yang memang sayang kepada anaknya megizinkan namun ia selalu mewanti-wanti agar Didit pulang sebelum pukul 24:00. Namun pada kenyataannya Didit baru pulang jam 02:00 dini hari karena ketiduran saat belajar.

 Baca juga: Ketika Hoegeng Minta Istrinya Tutup Toko Bunga di Cikini demi Menjaga Kejujuran

Hoegeng pun marah besar. Salah seorang ajudan Hoegeng, Pardi, sudah menunggu di depan rumah, langsung meminta Didit menemui ayahnya yang sudah menunggu di ruang makan. Didit yang semula ingin menghindari ayahnya, terpaksa harus melewati ayahnya dikarenakan untuk menuju kamar Didit harus melewati ruang makan terlebih dahulu.

Hoegeng lalu berkata “Catat siapa saja ayah teman-temanmu yang ikut belajar dan naik mobil dinas Papi. Serahkan pagi ini dan suruh mereka menghadap Kapolri di kantor pukul 06.30”. Didit yang mendengar perkataan Hoegeng hanya diam karena merasa takut dan bersalah.

Didit takut bukan karena Hoegeng marah akan tetapi karena ayah teman-temannya yang ikut belajar dan menumpang mobil dinasnya harus menghadap Hoegeng di kantor. Didit membayangkan ayah teman-temannya pagi ini harus menghadap ke kantor dan menjalani pemeriksaan. Didit pun memutuskan untuk menjelaskan kepada ayahnya dan siap menjalani hukuman yang diberikan.

Didit kemudia mengetuk pintu kamar ayahnya dan memberanikan diri bercerita kronogi kejadian kepada ayahnya. Didit yang menghadap Hoegeng saat itu langsung memberikan KTP dan SIM serta punggungnya yang dibuka tanpa baju.

“Silakan Papi marah dan pukul Didit sepuas Papi. Tetapi, tolong jangan ayah teman-teman Didit yang harus dihukum karena Didit. Mereka tidak bersalah, hukum saja Didit,” ucap anaknya.

Hoegeng hanya menjawab “terus” dan “terus” mendengar cerita kronologi Didit. Didit menceritakan bahwa saat akan belajar di salah satu rumah rekannya, ternyata rumah rekannya tak bisa dipakai karena sedang ada acara.

Kemudian Didit berpindah tempat ke rumah rekannya yang lain, namun juga tak bisa digunakan untuk belajar. Barulah setelah mendatangi rumah temannya yang lain mereka bisa belajar.

Saat itulah Didit dan teman-temannya ketiduran dan baru terbangun dini hari tersebut. Didit meminta maaf kepada Hoegeng atas kelalaiannya.

Ternyata Hoegeng yang sedari tadi mengatakan “terus” dan “terus” hanya ingin mendengar kata permintaan maaf dari Didit. Barulah setelah Hoegeng mendengar kata maaf tersebut alasan Didit dapat diterima Hoegeng

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini