Share

Tradisi Suku Dayak Sebelum Berperang, dari Mangkok Merah hingga Kayau

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 03 Februari 2022 08:38 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 03 337 2541668 3-tradisi-yang-dilakukan-suku-dayak-sebelum-berperang-qy6BvQeYqF.jpg Pasukan Merah Suku Dayak (Foto : Antara)

SUKU Dayak memiliki beragam tradisi unik yang dilakukan sebelum melakukan peperangan, yang tidak ditemukan di tempat lain.

Berikut beberapa tradisi yang dilakukan Suku Dayak sebelum berperang.

1. Mangkuk Merah

Tradisi mangkuk merah memiliki fungsi sebagai sistem komunikasi yang dilakukan oleh Suku Dayak dengan sesamanya. Mangkuk merah diedarkan untuk menyampaikan adanya bahaya atau ancaman yang berdampak pada Suku Dayak. Mangkuk ini diisi beberapa benda, yakni darah ayam, abu, daun kajang, batang korek api, dan bulu ayam.

Ada beberapa larangan yang berlaku dalam pengedaran mangkuk merah ini, antara lain tidak boleh menginap di suatu kampung. Selain itu, pembawa mangkok tersebut juga harus menjelaskan maksud dari pengedaran mangkok merah tersebut sejelas mungkin. Peredarannya harus berdasarkan pertimbangan ketua adat setempat.

2. Kayau

Kayau merupakan salah satu tradisi lain yang dilakukan Suku Dayak sebelum melakukan peperangan. Kayau atau Ngayau merupakan tradisi memenggal kepala yang dilakukan dalam perang. Ritual ini memiliki banyak ragam dan dilakukan sesuai kebutuhan. Kayau tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Komunikasi mengenai kayau ini dilakukan saat pelaksanaan tradisi mangkuk merah. Mangkuk tersebut diedarkan dari desa ke desa, dan warga desa akan berkumpul untuk menyelenggarakan upacara adat lain untuk menyemangati orang yang akan pergi berperang.

Pelaksanaan tradisi kayau dilandasi beberapa hal, seperti balas dendam, mempertahankan diri, hingga kepercayaan yang beredar bahwa kepala musuh merupakan penambah daya tahan berdirinya bangunan. Pada tahun 1894, tradisi ini sepakat untuk diakhiri oleh seluruh masyarakat Dayak Borneo Raya.

3. Nyaru Tariu

Sebelum pergi berperang, masyarakat Dayak menggelar upacara nyaru tariu. Tradisi ini merupakan ritual yang menghubungkan roh nenek moyang dengan sesama rumpun Suku Dayak yang ada di satu daerah. Hal ini dilakukan agar Suku Dayak dapat lebih mudah mengidentifikasi musuh. Hanya panglima adat yang memiliki wewenang untuk berhubungan dengan roh suci atau dewa.

Untuk melakukan upacara ini, panglima adat akan membawa mangkuk merah yang berisi cat merah atau jaranang, sejenis tanaman akar yang memiliki getah bewarna merah. Mangkuk ini kemudian dibawa ke panyugu atau tempat yang dianggap keramat saat matahari terbenam. Kepercayaan setempat meyakini bahwa roh suci akan menjawab panglima adat tersebut dengan tanda-tanda alam.

Jika tubuh panglima tersebut dianggap layak, roh dewa akan merasukinya dan melindungi masyarakat Dayak. Konon, pasukan yang terbentuk setelah pelaksanaan ritual ini akan kebal senjata, dapat bertahan hidup tanpa makan dalam jangka waktu satu bulan, hingga dapat bergerak cepat dalam hutan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini