Share

Ketika Hoegeng Minta Istrinya Tutup Toko Bunga di Cikini demi Menjaga Kejujuran

Fay Cilla, Okezone · Rabu 02 Februari 2022 06:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 01 337 2541078 ketika-hoegeng-minta-istrinya-tutup-toko-bunga-di-cikini-demi-menjaga-kejujuran-cu1X7H4bWH.jpeg Hoegeng. (Foto: Istimewa)

HOEGENG Iman Santoso atau Hoegeng adalah Kapolri ke-5 pada masa Orde Baru pemerintahan Presiden Soeharto. Selain jabatannya sebagai Kapolri ia juga sempat menjabat sebagai Mentri Iuran Negara dan Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia.

Hoegeng juga menjadi teladan Polri hingga saat ini karena sifat dan komitmennya untuk jujur, disiplin, dan sederhana. Komitmennya ia buktikan saat menjabat di posisi penting. Dia tidak pernah menerima pemberian dari siapapun bahkan dari negara.

Ia juga menolak adanya pengawalan di rumahnya atau rumah dinas sebagai haknya menjadi Kapolri saat itu. Ia beranggapan bahwa ia tidak ingin menghambur-hamburkan keuangan negara.

Tak hanya pada pekerjaan, Hoegeng juga merupakan seorang yang sangat sayang kepada keluarganya. Terlebih pada istri kesayangannya, Meriyanti Roeslani yang dipanggilnya Meri. Hebatnya, Meri juga ikut mendukung komitmen Hoegeng yang jujur, disiplin dan sederhana.

Baca juga:  Cinta Hoegeng kepada Istri, Ketika Sakit Semua Diminta Mendoakan Kesembuhannya

Ada cerita di balik Meri yang selalu berjuang bersama Hoegeng dalam pahit manisnya kisah yang mereka jalani. Salah satunya saat Hoegeng lontang lantung setelah kepindahannya dari Medan kembali ke Jakarta.

Putra Hoegeng, Didit dalam buku ‘Hoegeng Polisi dan Mentri’ menjelaskan, saat itu untuk membantu perekonomian keluarga saat Hoegeng masih lontang-lantung, Meri berjualan bunga di Pasar Cikini.

“Waktu itu, Papi yang sebelumnya masih lontang lantung. Mami membantu dengan berjualan Kembang di Pasar Cikini. Karena laris, mami bisa membuka toko kembang. Didit yang membantu mengirimkan pesanan bunga dan kembang tersebut ke pelanggan-pelanggan,” ujarnya.

Didit juga menerangkan Hoegeng lantas meminta istrinya menutup toko bunga tersebut saat diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia.

“Namun ketika papi diangkat jadi Kepala Jawatan Imigrasi. Mami diminta menutup toko bunga tersebut. Alasan papi, kalau mami masih buka toko bunga, nanti relasi papi akan banyak yang membeli bunga ketoko mami. Itu tidak baik bagi papi saat menjalankan tugas. Mami dengan suka rela menutup toko bunganya itu.” Jelas Didit.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Tak hanya pada saat Hoegeng menjadi Kepala Jawatan Imigrasi, saat ia menjadi Kapolri, Hoegeng juga melarang Meri untuk menjadi Ketua Umum Bhayangkari yang biasa dijabat oleh Istri Kapolri. Hoegeng juga meminta kepada pengurus Bhayangkari untuk melaksanakan Pemilihan Ketua Umum Bhayangkari.

“Kalau kita main ke Mabes Polri, pada periode kepemimpinan Papi, foto ketua umum Bhayangkari bukan foto Mami, tetapi foto orang lain,” Jelas Didit.

Hoegeng juga berkata saat itu pada istrinya, “Hoegeng ini komandan polisi di Indonesia, tetapi Meri bukan komandan dari istri-istri para polisi,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini