Share

Keakraban Kiai Umar dengan Orang Tionghoa yang Gemar Pakai Celana Pendek

Tim Okezone, Okezone · Selasa 01 Februari 2022 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 31 337 2540676 keakraban-kiai-umar-dengan-orang-tionghoa-yang-gemar-pakai-celana-pendek-2UWXJj6AIh.jpg KH Umar Abdul Mannan Solo (Foto: Nu.or.id)

JAKARTA - KH Ahmad Umar Abdul Mannan (1917-1980) adalah seorang kiai pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Magkuyudan Solo, Jawa Tengah. Kiai Umar memiliki kisah tentang keakrabannya dengan orang Tionghoa yang tidak beragama Islam. 

Melansir dari nu.or.id, orang Tionghoa itu bernama Mugisi yang berprofesi sebagai pegawai Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Solo. Mugisi beragama Buddha atau malah Kong Hu Cu.

Kiai Umar dengan Mugisi kerap berinteraksi. Suatu ketika, Mugisi yang bertugas di wilayah Mangkuyudan, mendatangi lokasi Pondok Pesantren Al Muayyad. Mugisi yang kerap memakai celana pendek saat menarik tagihan listrik menjadi sesuatu yang tak lazim dalam sopan santun kepada seorang kiai, termasuk kepada Kiai Umar.

Baca Juga: Rumah Tionghoa Kuno di Lasem, Ada yang Dijual dan Mangkrak

Saat itu, Kiai Umar sudah bersiap-siap naik ke masjid untuk melakukan jamaah Sholat Dzuhur. Kemudian, meminta Mugisi untuk berkeliling dulu ke pelanggan lain. Mugisi menyambut baik permintaan Kiai Umar.

Usai berkeliling ke para pelanggan, Mugisi kembali ke pondok untuk bertemu dengan Kiai Umar. Di ruang tamu, Kiai Umar sudah menunggunya dan mempersilakan Mugisi masuk dan duduk di dalam untuk menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan.

Baca Juga:  Kisah Sunan Gunung Jati Bangun Vihara di Banten

Di ruang inilah Kiai Umar menyerahkan uang pembayaran listrik sambil berbincang-bincang dengan Mugisi. Hal seperti ini berlangsung terus menerus hingga akhirnya secara diam-diam Mugisi mengagumi seluruh keramahan, kebaikan dan nasihat-nasihat bijak Kiai Umar.

Mugisi merasakan sekali Kiai Umar sangat berbeda dengan sebagian orang Solo dalam memandang orang-orang etnis Tionghoa. Kekaguman Mugisi pada Kiai Umar dari waktu ke waktu semakin meningkat hingga akhirnya Pak Mugisi memohon Kiai Umar untuk menuntunnya membaca dua kalimat syadahat.

Mugisi pun memeluk Islam dengan disaksikan para santri dan masyarakat di masjid pondok. Kiai Umar kemudian memberikan nama baru untuk Pak Mugisi dengan nama Muhammad Salim. Mugisi pun tidak lagi memakai celana pendek ketika keluar rumah untuk bekerja.

Peristiwa tersebut terjadi pada 1960-an yang waktu itu saya (Muhammad Ishom, Dosen Fakultar Agama Islam Universitas Nadlatul Ulama, penulis) mungkin belum lahir atau masih sangat kecil. Cerita ini sendiri dirinya dengar langsung dari H Ali Marsidi, mantan ketua RT yang rumahnya di sebelah barat Pondok Pesantren Al-Muayyad.

Marsidi tahu betul peristiwa itu karena menyaksikan sendiri. Marsidi juga bercerita bahwa setelah Mugisi masuk Islam, satu per satu dari anggota keluarganya menyusul masuk Islam. Kabar terakhir yang didengar Marsidi adalah bahwa Mugisi sudah dua kali naik haji ke Tanah Suci di Makkah.

Singkatnya, Kiai Umar tidak menjadikan perbedaan etnis dan agama sebagai penghalang dalam berinteraksi sosial (muamalah) sebagai sesama warga negara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Mugisi hanyalah salah seorang dari sekian banyak orang Solo yang menjadi saksi atas toleransi dan penghormatan Kiai Umar terhadap perbedaan etnis dan agama. Adapun Mugisi memeluk agama Islam, hal itu atas keputusan sendiri yang dilindungi undang-undang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini