Share

Tan Kim Liong, Kader NU Peranakan Tionghoa yang Ubah Suhu Panas Jadi Adem di Makkah

Tim Okezone, Okezone · Selasa 01 Februari 2022 05:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 31 337 2540671 tan-kim-liong-kader-nu-peranakan-tionghoa-yang-ubah-suhu-panas-jadi-adem-di-makkah-AifN7wP9jx.jpg PBNU (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Tan Kim Liong, merupakan kader Nahdlatul Ulama (NU) peranakan Tionghoa. Dia juga merupakan seorang mualaf, yang ketika menjadi muslim namanya berganti menjadi Muhammad Hasan. 

Dikutip dari nu.or.id, Tan masuk Islam di bawah bimbingan Rais ‘Aam PBNU KH. Wahab Hasbullah. Ia lantas menunaikan ibadah haji dan berganti nama menjadi Mohammad Hasan sebagaimana saran dari pembimbingnya, Kiai Wahab.

Baca Juga:  Profil dan Sosok Ainun Najib, Pemuda NU yang Disebut Jokowi 'Serba Bisa' dan Harus Dibujuk Kerja di Tanah Air

Saat Tan menunaikan ibadah haji, ada kisah menarik yang dilakukannya untuk jamaah. Diceritakan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (LKiS: 2013), ibadah haji yang dijalani oleh Tan bertepatan dengan cuaca Makkah yang begitu terik. Suhunya mencapai 45 derajat Celcius. Banyak calon haji yang mengeluh kepanasan (hal 606).

"Mengapa saudara-saudara mengeluh padahal seharusnya sejak dari Tanah Air saudara-saudara sudah mempelajari situasi Arab Saudi dan siap mental untuk mengalami udara panas," sergah Tan.

Dengan kecerdasan yang dimiliki, Tan akhirnya meminta para pembantu syekh haji untuk membeli 10 balok es batu dan 4 buah kipas angin yang menggunakan batere. Balok es ditaruh di tengah tenda dan dikelilingi oleh kipas angin yang menyala.

Baca Juga: Presiden Jokowi Bingung Pilih Sarung untuk Hadiri Pengukuhan PBNU

Uap es pun memenuhi seluruh tenda dan mampu meredam hawa panas dan terik di luar. Atas tindakannya itu, semua jamaah mengucapkan terima kasih atas ide briliannya tersebut.

Benny G. Sutiono dalam bukunya Tionghoa dalam Pusaran Politik: Mengungkap Fakta Sejarah Orang Tionghoa di Indonesia (TransMedia: 2008) menyebut Tan Kim Liong lahir di Tanah Grogot, Kalimantan Timur pada tahun 1925. Setelah menamatkan SMA, ia lantas merantau di Jakarta (hal. 768).

Di Jakarta, Tan melanjutkan pendidikannya di Akademi Wartawan dan Universitas 17 Agustus 1945. Lalu, ia menjadi wartawan foto di surat kabar Suluh Indonesia.

Kemudian, ia mengundurkan diri dan memilih untuk menjadi seorang pengusaha swasta. Ia menekuni usaha eksportir kayu jati dan berhasil mencapai kesuksesan.

Tan terbilang aktif dalam kegiatan-kegiatan NU. Bahkan, ketika NU memutuskan keluar dari Masyumi dan menjadi partai tersendiri pada 1952, ia turut terlibat.

Latar pendidikannya sebagai lulusan Akademi Wartawan dan juga kemampuan menejerialnya sebagai seorang pengusaha sukses dibutuhkan oleh NU tatkala menerbitkan surat kabar Duta Masyarakat. Tan ditunjuk sebagai pimpinan direksi perusahaan harian yang menjadi corong informasi dan propaganda partai NU tersebut.

Meski memiliki jabatan yang cukup strategis, Tan tak pernah mencampuri urusan redaksional. Ia fokus menata keuangan perusahaan dan menangani jaminan sosial para karyawannya.

Selain itu, Tan juga mengurusi perihal percetakannya. Keterlibatan Tan di Duta Masyarakat menjadi pintu masuk menuju dunia politik. Pada Pemilu 1955 yang menentukan anggota DPR RI, selain ditempuh melalui jalur pemilihan umum, juga ditentukan pemilihan khusus dari kalangan minoritas. 

Aturan tersebut diadaptasi dari "vreemde oosterlingen" di masa kolonial. Di mana orang-orang dari Asia Timur Asing berhak mengirimkan wakil-wakilnya. Aturan yang diterapkan oleh Presiden Soekarno tersebut, membuka peluang partai-partai besar hasil Pemilu 1955 untuk menambah wakilnya di DPR yang berasal dari kalangan minoritas sebagai diatur di atas.

Pada saat itu, NU mendapat tambahan dua kursi yang semuanya diberikan kepada etnis Tionghoa. Yaitu kepada Tan Kim Liong dan Tan Eng Hong yang dikenal dengan nama Eddy.

Keduanya dilantik pada 5 Desember 1956. Keterlibatan Tan dalam berjuang di NU menjadi sebuah bukti penting hubungan harmonis NU dengan semua suku bangsa. Tak ada resistensi. NU menjadi wadah besar bagi umat Islam tanpa melihat dari mana asalnya. (Arief)

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini