Share

Kisah Kesaktian Ki Bahurekso, Adipati Kendal yang Tapa Ngalong Selama 40 Hari

Mohammad Adrianto S, Okezone · Jum'at 28 Januari 2022 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 28 337 2539381 kisah-kesaktian-ki-bahurekso-adipati-kendal-yang-tapa-ngalong-selama-40-hari-jKGNpK6Mpb.jpg Ki Bahurekso/ ilustrasi santossalam

KENDAL - Sosok Ki Bahurekso mungkin terdengar asing di telinga masyarakat umum. Namun, dirinya merupakan pria pertama yang pernah menjadi Adipati Kendal.

(Baca juga: Jejak Kesaktian dan Pengabdian Pangeran Purbaya kepada Mataram)

Kisah Ki Bahurekso bermula dari jaman Kerajaan Mataram Islam di tahun 1613 - 1645, di mana saat itu mereka sudah harus melawan penjajah yang datang dari Portugis dan Belanda.

Ki Bahurekso konon bermula dari kisah seorang pemuda yang bernama Joko Bahu putra tunggal Ki Ageng Cempaluk yang ingin mengabdikan diri di Kerajaan Mataram.

Ki Ageng Cempaluk merupakan sosok yang diasingkan di desa terpencil karena sempat melakukan kesalahan di masa lampau. Namun, Sultan Agung, Raja Mataram saat itu, dengan senang hati menerima Joko Bahu di istananya.

 (Baca juga: Keris Kyai Carubuk, Maha Karya Empu Supo yang Kalahkan Brongot Setan Kober Arya Penangsang)

Tetapi, sebelum Joko Bahu bisa mengabdi di istana, dirinya harus terlebih dulu membuktikan kesetiaannya terhadap Kerajaan Mataram, yaitu dengan menyelesaikan tiga ujian yang diberikan kepadanya.

Pada ujian pertama, Joko Bahu harus membendung Kali Sombong, yang akan membantu rakyat Kerajaan Mataram tiap kemarau datang.

Kali Sombong terkenal akan keangkerannya. Namun, Joko Bahu menyanggupi ujian yang dia berikan, dan berangkat untuk membendung kali tersebut.

Bersama dengan sejumlah prajurit kerajaan, dirinya bekerja untuk membendung kali. Namun, kerap terjadi keanehan saat Joko Bahu bekerja.

Setiap pagi, Joko Bahu kerap menemukan bendungan yang dia kerjakan bocor tanpa sebab. Hal ini terjadi terus-menerus selama beberapa hari.

Akhirnya, Joko Bahu melakukan pertapaan bernama Tapa Brata untuk mencari solusi membendung kali. Dalam pertapaannya, dia bertemu dengan Welut Putih, sosok penunggu kali tersebut.

Dialah yang menyebabkan Kali Sombong terus bocor. Joko Bahu melakukan tawar menawar agar Welut Putih membiarkan dirinya untuk membendung kali tersebut.

.

Pada akhirnya, Joko Bahu berhasil melaksanakan tugas yang diberikan oleh Sultan Agung. Namun, tugas Joko Bahu belumlah selesai.

Kali ini, dia harus membuka lahan di tepi pantai bernama Alas Gambiran. Serupa dengan Kali Sombong, tempat ini juga terkenal karena keangkerannya serta lokasinya yang jauh untuk dicapai.

Alas Gambiran juga terkenal menyesatkan. Banyak pelancong yang melewati lokasi tersebut, dan justru malah tersesat di dalam hutan tersebut.

Agar tidak tersesat di dalam hutan, Joko Bahu melakukan pertapaan bernama Tapa Ngalong selama 40 hari lamanya. Tapa Ngalong sendiri merupakan bentuk bertapa mengikuti posisi kalong.

Tapa Kalong sendiri dilakukan atas saran Ki Ageng Cempaluk. Dirinya memberi tahu Joko Bahu melakukan hal tersebut karena usahanya ingin digagalkan oleh Dewi Lanjar, utusan Ratu Kidul.

Rupanya, setelah bertapa selama 40 hari, Joko Bahu berhasil mengalahkan Dewi Lanjar dan akhirnya berhasil membuka lahan untuk Kerajaan Mataram.

Sultan Agung merasa puas dengan pekerjaan Joko Bahu. Dirinya memberi julukan "Ki Bahurekso" kepadanya dan menjadikannya sebagai Adipati Kendal yang pertama.

Kendati demikian, Ki Bahurekso masih harus menyelesaikan satu tugas terakhir, yaitu melamarkan seorang putri cantik dari Kali Salak bernama Nyi Rantang Sari untuk sang raja.

Namun, Nyi Rantang Sari justru malah jatuh hati kepada Ki Bahurekso. Dirinya tidak ingin menerima pinangan dari Sultan Agung, dan memilih untuk bersama Ki Bahurekso.

Ki Bahurekso berusaha mencari pengganti lain untuk Sultan Agung. Dia menemukan putri lain dengan kecantikan yang sama cantiknya dengan Nyi Rantang Sari.

Tetapi, Sultan Agung merasa ditipu oleh Ki Bahurekso dan ingin melancarkan hukuman mati kepadanya. Hal ini berhasil dicegah oleh Patih Singaranu.

Dia menyarankan agar sultan mengganti saja tugas ketiganya dengan tugas yang sangat berat. Sultan Agung pun setuju, dan dia memerintah Ki Bahurekso menyerang Belanda, yang saat itu berada di Jakarta.

Atas saran Ki Ageng Cempaluk, Ki Bahurekso berangkat ke Jakarta melalui jalur air. Ini bertujuan agar Ki Bahurekso tidak kehilangan kesaktian senjatanya dalam perjalanan.

Awalnya, Belanda merasa kesulitan melawan tentara Kerajaan Mataram. Jenderal Belanda yang bernama Jenderal Raveles bahkan meninggal karena terkena penyakit malaria.

Akan tetapi, Belanda tak kehabisan akal. Mereka membakar lumbung-lumbung makanan tentara Kerajaan Mataram sehingga mereka kehabisan perbekalan.

Akibatnya, Ki Bahurekso dan pasukannya takluk dalam pertempuran tersebut. Ki Bahurekso memutuskan untuk membuat sebuah Kraton di desa Kadipaten, dan tinggal di sana karena tidak berani pulang ke kerajaan.

Kabar tersebut terdengar sampai ke telinga Sultan Agung. Dirinya mengutus pendekar dari Cina yang bernama Tan Jin Kwen untuk menghabisi Ki Bahurekso.

Ki Bahurekso tewas di tangan Tan Jin Kwen, dan dia menggantikan posisi Ki Bahurekso sebagai Adipati Pekalongan pasca peristiwa tersebut terjadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini