Share

Strategi Pemerintah Hadapi Omicron Berbeda saat Tanggulangi Delta, Ini Alasannya

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 28 Januari 2022 07:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 28 337 2539076 strategi-pemerintah-hadapi-omicron-berbeda-saat-tanggulangi-delta-ini-alasannya-gVbb0rLIcI.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Indonesia saat ini bersiap menghadapi lonjakan kasus Covid-19 atau gelombang ketiga akibat varian Omicron. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun menegaskan bahwa strategi pemerintah dalam menghadapi gelombang Omicron ini sedikit berbeda dengan menghadapi gelombang Delta.

Gelombang Delta memiliki tingkat keparahan tinggi sehingga pemerintah harus mempersiapkan rumah sakit dengan banyak tempat tidur. Sedangkan Omicron ini yang tinggi adalah penularannya tapi keparahannya rendah.

“Sebagian besar kasus Omicron adalah OTG atau asimtomatik atau gejala sakitnya ringan. Jadi hanya gejala pilek, batuk, atau demam yang sebenarnya bisa sembuh tanpa perlu dibawa ke rumah sakit,” kata Menkes dikutip dari laman resmi Kemenkes, Jumat (28/1/2022).

Menkes pun meminta masyarakat mengetahui ciri-ciri dan langkah untuk mencegah varian Omicron tidak semakin menular. Dia mengatakan bahwa Omicron memicu gejala ringan seperti flu biasa, batuk, dan demam dengan tingkat penularan yang cepat. “Nanti kita akan melihat dalam waktu yang singkat kenaikan jumlah kasus yang cukup tinggi,” katanya.

Ciri-ciri selanjutnya dari varian Omicron, kata Menkes, adalah tingkat perawatan di rumah sakit lebih rendah, begitupun tingkat keparahannya juga lebih rendah. Sehingga pasien yang masuk ke rumah sakit lebih sedikit daripada pasien yang melaksanakan isolasi mandiri (Isoman).

Pemerintah, kata Menkes juga telah menyiapkan tempat tidur perawatan di rumah sakit sebanyak 70.641. Kapasitas tempat tidur secara nasional berjumlah 120 ribu hingga 130 ribu.

Sementara itu, total pasien yang sudah terkonfirmasi Omikron sampai tanggal 26 Januari 2022 berjumlah 1.988. Dari jumlah itu yang sudah sembuh atau selesai dirawat berjumlah 765 orang.

Total pasien pernah dirawat sejak awal kasus Omicron pada Desember 2021 sebanyak 854 pasien dengan rincian pasien asimtomatik 461, gejala jaringan 334 pasien, dan gejala sedang dan berat 59 pasien.

“Sebenarnya yang perlu masuk rumah sakit adalah pasien yang 59 itu. Yang perlu dirawat hanya kalau dia perlu di treatment oksigen,” ucap Menkes.

Dia pun berpesan kepada masyarakat untuk tetap waspada dan hati-hati. Yang paling penting selalu pakai masker, hindari kerumunan karena penularan akan semakin tinggi. Kalau bisa kerja di rumah, di rumah saja, tidak usah pergi kemana-mana karena risiko tertularnya sedang tinggi.

Tapi kalau pun tertular tidak usah panik yang penting disiplin isolasi sendiri dan minum vitamin, jika ada gejala ringan minum obat.

“Yang perlu ke rumah sakit kalau ada Lansia atau komorbid nya banyak, itu ke rumah sakit. Dan cepat-cepatlah divaksin untuk memperkuat daya tahan tubuh dalam menghadapi varian baru,” tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini