Share

Bupati Langkat Beri Hadiah Ultah Mini Cooper untuk Anak, KPK: Informasi Menarik

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Jum'at 28 Januari 2022 02:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 28 337 2539022 bupati-langkat-beri-hadiah-ultah-mini-cooper-untuk-anak-kpk-informasi-menarik-tVMA1YawNM.jpeg Alexander Marwata. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal menelusuri asal usul uang pembelian mobil Mini Cooper oleh Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin Angin. Mobil tersebut diberikan kepada anaknya yang berulang tahun.

"Tentu ini menjadi informasi yang menarik buat penyidik. Tentu akan ditanya," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata kepada wartawan, Kamis (27/1/2022). 

Namun demikian, Alex mengatakan bahwa pihaknya akan berlaku adil. Sebab, Terbit Rencana sendiri memiliki usaha yang bisa saja hasilnya dibelikan mobil untuk anaknya.

"Bupati Langkat (Terbit Rencana) itu kan juga seorang pengusaha. Punya kebun luas. Kalau uang yang digunakan untuk membeli mobil itu dari uang legal sah dari hasil usaha, kita harus fair juga," kata Alex. 

Sebagai informasi tengah viral di media sosial soal video putri Terbit Rencana yang mendapatkan hadiah mobil Mini Cooper di ulang tahunnya yang ke-17. Hadiah tersebut diberikan oleh sang ayah yang saat ini telah ditetapkan  menjadi tersangka oleh KPK terkait kasus dugaan suap.

Diketahui, video tersebut diunggah ke Youtube oleh akun bernama Proyek Baru pada 23 April 2019 lalu. Video tersebut saat ini sudah ditonton sekitar 52 ribu kali.

Baca juga: Geledah Perusahaan Bupati Langkat, KPK Kembali Temukan Uang Tunai

Diketahui, KPK telah menetapkan enam orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Langkat. Ke enam tersangka tersebut yakni, Bupati Langkat, Terbit Rencana Perangin Angin; Kepala Desa Balai Kasih sekaligus Kakak Kandung Terbit Rencana, Iskandar PA.

Selanjutnya, tiga kontraktor yang bertugas menjadi perantara suap yaitu, Marcos Surya Abdi; Shuhanda; dan Isfi Syahfitra. Kemudian, kontraktor Muara Perangin Angin. Muara Perangin Angin ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap. Sedangkan lima tersangka lainnya, merupakan pihak penerima suap.

Dalam perkara ini, Muara diduga telah menyuap Terbit Rencana untuk mendapatkan dua proyek di Kabupaten Langkat. Muara menyuap Terbit Rencana melalui Iskandar PA; Marcos Surya Abdi; Shuhanda; dan Isfi Syahfitra. Adapun, fee yang telah diserahkan Muara untuk Terbit yakni sebesar Rp786 juta.

Belakangan, ramai diperbincangkan adanya kerangkeng di rumah Bupati Langkat. Diduga, kerangkeng itu untuk memenjarakan para pekerja kebun kelapa sawit milik Terbit Rencana Perangin Angin. Bupati Langkat diduga telah melakukan perbudakan modern terhadap para pekerja sawit.

Atas ulahnya, sebagai pemberi Muara Perangin-angin

disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 

Sedangkan, Terbit Rencana dan empat tersangka lainnya disangkakan melanggar Pasal 12 huruf (a) atau Pasal 12 huruf (b) atau Pasal 11 UndangUndang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini