Share

Mengenal Pasukan Elite TNI Raider, Pemburu Teroris KKB di Belantara Papua

Fahmi Firdaus , Okezone · Jum'at 28 Januari 2022 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 27 337 2538998 mengenal-pasukan-elite-tni-raider-pemburu-teroris-kkb-di-belantara-papua-6E95RF0ub3.jpg Foto: Kostrad

JAKARTA – Putra terbaik bangsa kembali gugur di medan tugas saat membela bangsa dan negara. Adalah Serda M. Rizal Maulana Arifin, Pratu Tupel Alomoan Baraza, dan Pratu Rahman Tomilawa ketiganya berasal dari Batalyon Infanteri Raider 408/Suhbrastha (Yonif Raider 408/Suhbrastha). Sedangkan satu prajurit lainnya mengalami luka tembak atas nama Pratu Syaiful.

Ketiganya gugur akibat tembakan dari teroris Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Bukit Tepuk Kampung Jenggernok, Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua.

(Baca juga: 2 Anggota TNI Gugur Ditembak KKB Teroris Ternyata Pasukan Elite Batalyon Raider)

"Akibat penyerangan brutal KKB terhadap Pos Satgas Kodim YR 408/Sbh mengakibatkan personel TNI berjumlah tiga personel Satgas Kodim YR 408/Sbh meninggal dunia dan satu personel dalam kondisi kritis," ujar Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Aqsha Erlangga, Kamis, 27 Januari 2022.

Diketahui, Batalyon Infanteri Raider 408/Suhbrastha (Yonif Raider 408/Suhbrastha) merupakan batalyon infanteri elite organik di bawah Kodam IV/Diponegoro. Yonif Raider Mekanis 408/SBH sekarang berada dibawah komando langsung Korem 074/Warastratama yang berkedudukan di Jl. Sukowati, Kabupaten Sragen.

(Baca juga: Pasukan Elite Pratu Sahdi Tewas Dikeroyok, Ini Kemampuan Mencengangkan Prajurit Cakra Kostrad)

Sedangkan Markas Komando Yonif RM 408/SBH berada di Kabupaten Sragen, Markas Kompi Senapan A berada di Kabupaten Sragen, Kompi Senapan B berada di Jl. Perintis Kemerdekaan, Kabupaten Boyolali, Kompi Senapan C, Kompi Bantuan dan Kompi Markas berada di Kabupaten Sragen.

Dilansir beragam sumber, Batalyon Raider adalah pasukan elite TNI yang berada di bawah Pasukan Komando. Secara umum, batalyon Raider tak berbeda dengan prajurit Batalyon Infanteri, namun kemampuan individu Raider lebih baik dari prajurit Infanteri.

Ide membentuk pasukan elite di seluruh Kodam, dicetuskan oleh, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu pada tanggal 22 Desember 2003.

Langkah Jenderal TNI Ryamizard yang juga mantan Menteri Pertahanan ini ditindaklanjuti dengan meningkatkan kualifikasi 10 pasukan infanteri reguler menjadi Raider. Salah satunya dilatih kemampuan antiteror di Pusdikpassus milik Kopassus.

Selanjutnya, Pasukan elite ini dibentuk untuk meningkatkan daya cegah TNI. Pasalnya, batalyon Raider mampu beroperasi dalam unit kecil, rahasia dan mendadak. Biasanya, dalam satu Kodam memiliki satu unit pasukan Raider.

Setiap batalyon Raider terdiri atas 747 personel. Mereka memperoleh pendidikan dan latihan khusus selama enam bulan untuk perang modern, anti-gerilya, dan perang berlarut. Tiap-tiap batalyon ini dilatih untuk memiliki kemampuan tempur lebih dari batalyon infanteri biasa. Mereka dilatih untuk melakukan penyergapan dan mobil udara, seperti terjun dari Helikopter.

50 orang personel di antara 747 orang personel dalam satu batalyon Raider memiliki kemampuan anti teror dan keahlian-keahlian khusus lainnya. Keahlian tersebut mereka dapatkan setelah mengikuti pendidikan yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus yang bertempat di Batujajar, Jawa Barat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kekuatan pasukan raider.

Disisi lain, pasukan elite Raider sering diterjunkan memburu KKB teroris di Bumi Cendrawasih. Peran pasukan ini sangat dibutuhkan untuk menjaga Papua dari pemberontakan KKB teroris.

Berbagai misi juga dijalankan dengan sukses. Diantaranya, saat  Pasukan Para Raider 431/Satria Setia Perkasa (SSP) yang diterjunkan untuk memburu kelompok separatis yang menembak anggota Brimob Bharatu Bachtiar Yuniwandaru.

Sebelumnya, Pasukan Khusus Raider Kostrad juga mencuri perhatian menyusul peristiwa penembakan kepada pekerja PT Iskara Karya di Kabupaten Nduga, Papua. Saat itu, Pasukan elite baret hijau ini diturunkan untuk memburu kelompok separatis Egianus Kogoya yang bertanggung atas peristiwa keji tersebut.

Pelatihan raider biasa dilaksanakan selama 84 hari, mereka memiliki kemampuan tambahan, yakni kemampuan raider. Mereka punya kemampuan operasional di semua medan laga. Baik di perkotaan, hutan, gunung, sungai, rawa, laut, pantai, dan udara.

Untuk menjadi seorang Prajurit Para Raider. Setiap calon anggota akan digembleng latihan dalam tiga tahap. Ketiga tahap itu adalah tahap basis, tahap gunung hutan, dan tahap rawa laut.

 - Tahap Basis

Pasukan mendapat pelatihan menghadapi pertempuran kota, pertempuran jarak dekat, dan ilmu medan. Penghancuran medan dan pembebasan tawanan diajarkan di tahapan ini. Mereka digembleng keras dalam tahapan ini.

- Tahap Gunung Hutan

Pasukan dilatih survival di hutan belantara dan kemampuan gerilya di gunung. Bahkan dalam tiga hari mereka tidak dibekali makanan, hanya garam dan korek api yang dibawa pasukan. Mereka diuji untuk tetap survive dalam kondisi seminim apapun.

- Tahap Rawa Laut

Para raider digembleng kemampuan tempur di laut.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini