Share

Air Laut Berubah Jadi Merah Darah, Pertanda Buruk Perang Bubat

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 28 Januari 2022 05:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 27 337 2538939 air-laut-berubah-jadi-merah-darah-pertanda-buruk-perang-bubat-xbfAbVEwpM.jpg Air Laut Galuh berubah jadi merah darah sebelum perang bubat meletus. (Ilustrasi/Ist)

RAJA Sunda, Maharaja Linggabuana Wisesa, bersama permaisuri, dan beberapa pejabat istana pergi ke Majapahit. Rombongan itu ke sana untuk mengantarkan Dyah Pitaloka Citraresmi, sekaligus melangsungkan pesta pernikahan di ibu kota Majapahit.

Rombongan kecil itu dihadapkan dengan peristiwa yang sangat aneh saat hendak berangkat ke Majapahit. Air laut tempat kapal-kapal mereka bersandar tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah.

Pertanda buruk itu tak dihiraukan Maharaja Linggabuana Wisesa dan rombongannya. Mereka tetap berangkat menuju Majapahit dengan penuh misteri. Tidak terlalu banyak pasukan yang mengiringi perjalanan Maharaja Linggabuana Wisesa ke Majapahit.

Perjalanan jauh akan mereka tempuh dari Galuh menuju ibu kota Majapahit di Trowulan. Ratusan rakyat Galuh mengantarkan sang putri beserta raja dan penggawa menuju pantai. Mereka semua menyaksikan misteri air laut yang berubah warna menjadi merah darah itu.

Dikutip dari buku "Perang Bubat 1279 Saka: Membongkar Fakta Kerajaan Sunda Vs Kerajaan Majapahit" tulisan Sri Wintala Achmad, rombongan berangkat ke Majaphit di hari yang telah ditentukan.

Peristiwa Perang Bubat konon tak lepas dari kebimbangan Raja Hayam Wuruk dalam mengambil keputusan. Pasalnya, sebagi raja muda di Majapahit, Hayam Wuruk selama ini dibantu Mahapatih Gajah Mada yang lebih menjadi tokoh sentral layaknya sebagai posisi perdana menteri.

Saat rombongan Sunda tiba di Pesanggrahan Bubat, datanglah utusan Patih Amangkubhumi Gajah Mada. Mereka menyampaikan maksud agar Dyah Pitaloka Citraresmi diserahkan kepada Hayam Wuruk sebagai tanda takluk Sunda ke Majapahit.

Baca Juga : Ancaman Permaisuri Majapahit Jika Dirinya Dilengserkan

Namun, hal ini membuat Maharaja Linggabuana Wisesa merasa harga dirinya telah terinjak-injak dengan perlakuan Gajah Mada. Hal ini jelas ditolak Maharaja Linggabuana Wisesa. Namun, sebagai raja yang arif, Maharaja Linggabuana Wisesa enggan bertindak gegabah untuk serta merta langsung mengadakan perlawanan.

Meski begitu, kearifan hati Wisesa tak diikuti seluruh anak buahnya. Di hadapkan dengan situasi tersebut, rombongan Sunda merasa dilecehkan. Karena itu, rombongan Sunda tersebut ingin mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai pengantin, bukan sebagai tanda takluk Sunda terhadap Kerajaan Majapahit.

Namun, Hayam Wuruk tampaknya belum berani mengambil keputusan tepat. Faktor umur yang masih muda menjadikannya bimbang, apalagi kedudukan Gajah Mada yang menjadi tokoh andalan untuk Majapahit dalam mengambil kebijakan.

Di sisi lain, rombongan pengantin Sunda mulai muak dengan perlakuan yang diterimanya dari Gajah Mada. Beberapa pejabat istana Sunda seperti Larang Agung, Tuan Sohan, Tuan Gempong, Panji Melong, Rangga Kaweni, Sutrajali, Jagatsaya, Urang Pangulu, Urang Saya, dan Urang Siring, naik pitam.

Mereka memutuskan melakukan perlawanan terhadap pasukan Majapahit di bawah komando Gajah Mada, meski secara jumlah jelas kalah telak. Sebelum raja Hayam Wuruk memberikan putusan, Gajah Mada dan pasukannya sudah melakukan penyerangan ke lapangan Bubat. Mereka pun mengancam Raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa untuk mengakui kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Demi mempertahankan kehormatan dan harga diri sebagai ksatria Sunda, Maharaja Linggabuana Wisesa menolak tekanan itu. Satu lesatan anak panah entah busur dari siapa menerjang utusan Gajah Mada hingga terkapar di tanah.

Suasana pun tidak terkendali, perang pun tidak terelakkan lagi. Rombongan pengantin Sunda yang tidak siap berperang menghunus pedang dan merentangkan gendewa untuk menghadapi pasukan Majapahit yang sudah siaga berperang.

Timbullah peperangan yang tak seimbang antara pasukan Gajah Mada yang berjumlah besar dengan pasukan Balamati, para pejabat, dan para menteri dari Kerajaan Sunda di lapangan Bubat.

Pasukan Sunda menyerang ke arah selatan, di sana pasukan Majapahit dibuat kocar-kacir. Namun serangan dari pasukan Sunda itu dipatahkan oleh pasukan Majapahit di bawah komando Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewis, Patih Teteg, dan Jaran Baya. Para menteri Araraman dan pasukan berkuda berganti menyerang pasukan Sunda.

Serangan itu berhasil meluluhlantakkan pertahanan hingga pasukan Sunda menyingkir ke arah barat daya. Pasukan Sunda dapat dikepung itu berhadapan dengan pasukan yang dipimpin langsung Gajah Mada.

Setiap prajurit Sunda yang menghadang kereta Gajah Mada, berhasil disingkirkan satu persatu sehingga peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa, para menteri, dan pejabat Kerajaan Sunda.

Kemenangan Majapahit dalam perang Bubat harus dibayar mahal setelah itu, karena Dyah Pitaloka Citraresmi memilih bunuh diri setelah melihat ayahnya, dan seluruh rombongan Sunda gugur dalam pertempuran itu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini