Share

4 Suku Pedalaman Papua, Nomor 2 Pemburu Hewan Buas di Rimba Cendrawasih

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 27 Januari 2022 16:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 27 337 2538786 4-suku-pedalaman-papua-nomor-2-pemburu-hewan-buas-di-rimba-cendrawasih-nMzZZiilRP.jpg Foto: lookindonesia

PAPUA terletak di wilayah bagian timur Indonesia. Sejak 1969-1973, Papua disebut dengan nama Irian Barat. Irian adalah akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland. Kemudian nama Irian Jaya diganti oleh Presiden Soeharto menjadi Papua. Pergantian nama Papua sesuai dengan UU No 1 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua.

(Baca juga: 4 Senjata Perang Khas Papua, Nomor 3 Sangat Mematikan Terbuat dari Tulang Burung Kasuari)

Kata Papua berasal dari bahasa Melayu yang berarti rambut keriting. Papua dikenal dengan keberagaman budaya hingga keindahan alamnya.

Masyarakat Papua pun dikenal masih kental akan tradisi yang ada di dalam sebuah suku yang terdapat di Papua. Berikut suku asli yang terdapat di Bumi Cendrawasih dirangkum dari beragam sumber, Kamis (27/1/2022).

 

1. Suku Asmat

Suku Asmat mendiami pesisir barat daya Papua. Sekitar 50.000 orang mendiami wilayah ini. Orang Asmat berdiam di lingkungan alam terpencil dengan rawa-rawa berlumpur yang ditumbuhi pohon bakau, nipah, sagu. Bentuk tubuh orang Asmat berbeda dengan penduduk lain yang berdiam di pegunungan tengah atau di bagian pantai lainnya. Tinggi badan laki-laki Asmat antara 167-172 meter, sedangkan tinggi badan perempuannya berkisar 160-165 meter.

Suku Asmat terkenal dengan rumah Yeu atau rumah bujang. Rumah Yeu ditempati oleh pemuda yang belum menikah dan tidak boleh dimasuki oleh wanita maupun anak-anak. Di rumah Yeu ini dilaksanakan berbagai upacara adat. Karena itu bangunan tersebut mempunyai arti religius yang penting dan merupakan pusat kehidupan kampung.

Untuk bahan makanan sehari-hari, Suku Asmat banyak mendapatkannya dari pohon sagu yang tumbuh liar serta hewan-hewan hasil perburuan. Sedangkan dalam hal pakaian, orang-orang Suku Asmat menggunakan pakaian rumbai-rumbai.

 

2. Suku Bauzi

Suku Bauzi tinggal di tepi Sungai Memberamo Raya. Sungai ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Suku Bauzi. Tak hanya itu, Sungai Memberamo Raya juga menjadi sarana transportasi sekaligus habitat alami buaya.

Suku Bauzi dikenal sebagai pemburu buaya dan ular. Masyarakatnya memanfaatkan seluruh bagian buaya hasil buruan. Dagingnya dimakan, kulitnya dijual, sementara tengkorak dan giginya dipakai sebagai hiasan.

Pakaian kaum laki-laki Suku Bauzi adalah selembar daun atau kulit pohon yang sudah dikeringkan, lalu diikat menggunakan tali pada ujung kelamin. Selain itu, mereka juga memasang hiasan berupa tulang pada lubang hidung. Sementara itu, para wanita Suku Bauzi menggunakan selembar daun atau kulit kayu yang diikat dengan tali di pinggang sebagai pakaiannya.

 (Baca juga: 2 Anggota TNI Gugur Ditembak KKB Teroris Ternyata Pasukan Elite Batalyon Raider)

 

3. Suku Dani

Suku Dani tersebar mulai dari lembah llaga di sebelah barat sampai ke lembah Balim. Anggota Suku Dani ini diperkirakan sekitar 200.000 jiwa, yang merupakan suku terbesar di Papua berdasarkan jumlah anggotanya.

Bahasa yang digunakan masyarakat Suku Dani adalah bahasa Dani yang termasuk rumpun bahasa Papua. Bahasa Dani ini terbagi menjadi dua dialek, yaitu dialek Dani Barat dan Dialek Dani Lembah Besar.

Mereka tinggal di rumah adat yang dikenal dengan Honai. Honai ini berbentuk bundar, beratap jerami, dindingnya yang tersusun dari kayu serta mempunyai bentuk pintu yang mungil. Tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal, orang Suku Dani juga menggunakan honai untuk menyimpan hasil ladang dan tempat pengasapan dalam proses mumifikasi.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

 

 

4. Suku Amungme

Suku Amungme bermukim dalam wilayah Desa Kwamki, Mimika. Mata pencaharian utama dari Suku Amungme adalah meramu sagu, berburu, mencari ikan, dan berladang. Bahasa yang digunakan suku ini adalah Uhunduni, yang terbagi menjadi beberapa dialek, di antaranya Amung, Damal, dan Enggipilu.

Masyarakat Suku Amungme terbiasa hidup berkelompok. Mereka terikat kepada tanah leluhur dan menganggap sekitar gunung adalah suci. Hal ini terkait dengan kepercayaan animisme yang dianut Suku Amungme.

Pakaian yang dikenakan kaum laki-laki Suku Amungme adalah koteka. Sedangkan kaum wanitanya menggunakan cawat yang terbaut dari kulit kayu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini