Share

Kisah Mengerikan Keris Sakti Mpu Gandring, Dikutuk Menelan Nyawa 7 Keturunan Ken Arok

Tim Okezone, Okezone · Rabu 26 Januari 2022 05:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 25 337 2537727 kisah-mengerikan-keris-sakti-mpu-gandring-dikutuk-menelan-nyawa-7-keturunan-ken-arok-TAbmmqVh2F.jpeg Ilustrasi keris. (Foto: Istimewa)

KERIS Mpu Gandring tak bisa dilepaskan dari pembahasan tentang Ken Arok. Pusaka termasyhur dalam sejarah berdirinya Kerajaan Singasari di Jawa Timur ini juga terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elite Singhasari, termasuk Ken Arok yan tak lain adalah pendiri dan penggunanya.

Dikutip dari Sindonews.com, nama keris ini diambil dari seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti, Mpu Gandring. Keris ini dibuat atas pesanan dari Ken Arok yang meminta jadi dalam satu malam. Awalnya mustahil pekerjaan berat ini bisa dirampungkan seorang mpu (pandai besi yang sakti). Namun dengan segenap kekuatan gaib dan kemampuan yang dimilikinya, Mpu Gandring pun mampu membuatnya.

Tirakat, puasa dan ritual khusus pun dilakukan Mpu Gandring ebelum memilih bahan untuk membuat keris tersebut agar keris tersebut bertuah. Mpu Gandring memilih batu meteor sebagai bahan untuk kerisnya sehingga memiliki aura yang tinggi.

Setelah keris terbentuk, Mpu Gandring mencelupkan keris yang masih panas tersebut ke dalam bisa ular. Tak ayal, keris itu menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu.

Mpu Gandring kemudian menyelesaikan pekerjaannya dengan membuat sarung keris. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan harus diambil.

 Baca juga: Kejanggalan Ken Dedes Menerima Cinta Ken Arok

Ironisnya, Ken Arok lantas menguji keris dengan menusuk Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji karena sarung keris itu belum selesai dibuat. Selain itu, dipercaya aksi itu dilakukan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya).

Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singaasari.

Terbunuhnya Tunggul Ametung

Terbunuhnya Tunggul Ametung

Tunggul Ametung merupakan kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singaasari), saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri yang diperintah Kertajaya dengan gelar Dandang Gendis (raja terakhir kerajaan ini).

Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kadiri, di mana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga.

Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa, “barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia”.

Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa ke mana-mana untuk menarik perhatian umum.

Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah siasat agar nanti yang dituduh membunuh Tunggul Ametung dalah Kebo Ijo. Siasat Ken Arok berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung.

Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.

Terbunuhnya Ken Arok

Terbunuhnya Ken Arok

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.

Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.

Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring.

Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya.

Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Terbunuhnya Anusapati

Terbunuhnya Anusapati

Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, tetapi tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.

Tohjaya mengadakan acara sabung ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring dan langsung membunuhnya di tempat.

Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman di mana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.

Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik di kalangan rakyat dan bahkan kalangan elite istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, di antaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal.

Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai Kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.

7 Turunan Ken Arok

7 Turunan Ken Arok

Beberapa sumber spritual menyebut, Keris Mpu Gandring ini sebenarnya tidak hilang. Dalam arti hilang musnah dan benar-benar tidak ketahuan keberadaannya. Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok.

Dalam sejarah ataupun legenda ternyata ada 7 (tujuh) orang terbunuh oleh keris itu, yaitu Mpu Gandring (pembuat keris), Kebo Ijo (rekan Ken Arok), Tunggul Ametung (penguasa Tumapel saat itu), Ken Arok (pendiri Kerajaan Singasari), Ki Pengalasan (pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok), Anusapati (anak Ken Dedes yang memerintah Ki Pengalasan membunuh Ken Arok), dan Tohjaya (putra Ken Arok dari selirnya Ken Umang tidak terbunuh oleh keris ini). Satu lagi yang terakhir adalah Ken Dedes yang mati oleh keris itu.

Dan kemudian keris itu diambil oleh raja jawa yang memiliki kesaktian luar biasa untuk memusnahkan keris itu dibuang ke kawah Gunung Kelud di Jawa Timur.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini