Share

Mengenal Dayak Lundayeh yang Protes Edy Mulyadi dengan Potong Ayam dan Babi

Ajeng Wirachmi, Litbang Okezone · Selasa 25 Januari 2022 15:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 25 337 2537532 mengenal-dayak-lundayeh-yang-protes-pernyataan-edy-mulyadi-dengan-gelar-ritual-potong-babi-dan-ayam-zwvuK26hWQ.jpg Suku Dayat (Foto: Wego.co.id)

JAKARTA – Gelombang protes terus bermunculan dari masyarakat Dayak setelah adanya pernyataan yang menyakitkan dari Edy Mulyadi yang menyebut lokasi Ibu Kota Negara yang baru diberi nama Nusantara itu sebagai tempat jin buang anak.

Salah satu kelompok yang melakukan protes adalah Dayak Lundayeh. Etnis ini bahkan melakukan ritual pemotongan babi dan ayam pada 25 Januari 2022 lalu. Tradisi itu dilakukan bersamaan dengan aksi damai yang digelar di Samarinda.

Ritual pemotongan babi dan ayam itu sebagai simbol bahwa masyarakat Dayak, baik yang Muslim maupun non-Muslim, merasa tersinggung dengan ucapan Edy. Lantas, bagaimana sejarah Suku Dayak Lunyadeh?

Melansir laman Pustaka Borneo, Suku Dayak Lundayeh merupakan penduduk asli dataran tinggi Krayan, tepatnya di wilayah Pegunungan Apo Duat. Jumlah penduduk suku ini diperkirakan mencapai 24 ribu jiwa. Nenek moyang masyarakat Dayak Lundayeh berasal dari daratan Tiongkok yang hijrah ke Borneo. Adapun peninggalan yang ada dari leluhur Dayak Lundayeh berupa guci, tempayan, patung porselen, dan pedang sejenis samurai.

Baca juga: Misteri Panglima Burung dan Panglima Kumbang Penjaga Tanah Borneo

Menurut jurnal Sosiatri-Sosiologi dari Universitas Mulawarman bertajuk “Upaya Pelestarian Ritual Nuy Ulung Suku Dayak Lundayeh di Desa Long Bisai Kecamatan Mentarang Kabupaten Malinau”, salah satu ritual yang dilakukan masyarakat Suku Lundayeh adalah Nuy Ulung. Dalam ritual ini, masyarakat mendirikan sebuah tugu atau tiang sebagai simbol kemenangan usai perang. Di atas tiang tersebut, ada penggalan kepala lawan yang dipasang.

Baca juga: 6 Ragam Suku dalam Masyarakat Dayak, Nomor 4 Hidup Dekat Sungai

Seiring berjalannya waktu, penggalan kepala tersebut diganti dengan kepala hewan atau batok kelapa yang menyerupai tengkorak manusia.

Sebagai bagian dalam ritual Nuy Ulung, tarian Ngudub juga disajikan. Tarian ini dikombinasikan dengan syair secara bersahut-sahutan oleh para penari guna merayakan kemenangan. Kini, Nuy Ulung tidak dilakukan untuk merayakan kemenangan, melainkan simbol rasa syukur dan rasa persatuan berbagai suku dan agama di Indonesia.

Baca juga: Pasukan Merah Dayak, Kelompok Elite yang Kebal Sajam dan Bisa Bicara dengan Leluhur

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini