Share

Kisah Gajah Mada, dari Mahapatih Jadi Buronan Kerajaan Majapahit

Solichan Arif, Koran SI · Selasa 25 Januari 2022 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 24 337 2537111 kisah-gajah-mada-dari-mahapatih-jadi-buronan-kerajaan-majapahit-eRjqceDVHC.jpg Gajah Mada (Foto: Ist)

NASIB Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit berakhir memilukan. Sumpah Palapa Gajah Mada yang melegenda justru menjadi pemicu dihukumnya sang mahapatih.

Gajah Mada dipersalahkan usai peristiwa pembantaian Raja Sunda dan permaisurinya di Lapangan Bubat. Terutama Raja Wengker yang menuntut Gajah Mada dihukum.

Peristiwa yang terjadi pada 1357 itu menewaskan putri Sunda Dyah Pithaloka Citrarasmi. Hal itu membuat Raja Majapahit Hayam Wuruk merasakan duka yang mendalam. Hingga Hayam Wuruk pun sakit dan mangkat.

Baca Juga: Saat Gajah Mada Menolak Jabatan Strategis Pimpin Bala Tentara Kerajaan Majapahit

Raja Wengker naik pitam dan mengumpulkan para menteri untuk membicarakan sebab musabab wafatnya srinata. "Bagaimana pun Gajah Mada harus mendapat hukuman setimpal," tulis Slamet Muljana dalam "Menuju Puncak Kemegahan, Sejarah Kerajaan Majapahit".

Bila saja Gajah Mada tak memaksa Dyah Pithaloka Citrarasmi sebagai persembahan, perang Bubat tidak akan pernah terjadi. Maka, Raja Hayam Wuruk dan putri Sunda akan bersanding sebagai pasangan mempelai dalam pernikahan agung. Majapahit dan Sunda akan menjadi satu.

Masalah muncul saat di tengah prosesi pernikahan, Gajah Mada tiba-tiba berinisiatif melakukan penaklukan. Di mana, Sunda harus tunduk meskipun melalui jalan perkawinan.

Baca Juga: Kisah Dewi Andongsari Bunuh Diri karena Rasa Bersalah kepada Gajah Mada

Raja Sunda menolak keinginan Gaja Mada yang menjadikan Pithaloka sebagai persembahan Raja Majapahit. Gajah Mada bersikeras yang membuat Raja Sunda marah. 

Perang antara pasukan Majapahit dengan pasukan Sunda pun pecah di Lapangan Bubat. Raja Sunda beserta permaisurinya tewas dalam kejadian tersebut. 

Para Menak Sunda yang melihat rajanya terbunuh, mengamuk. Namun, semua bukan tandingan Gajah Mada. Satu-per satu binasa. Pernikahan yang sebelumnya direncanakan sirna.

Raja Hayam Wuruk hanya bisa menyesali keadaan. Bahkan, kehilangan selera menyentuh makanan dan minuman.

Dia juga jarang tidur yang itu membuatnya jatuh sakit dan akhirnya mangkat. Gajah Mada pun harus bertanggung jawab. Tuntutan Raja Wengker menghukum Gajah Mada mendapat sokongan Raja Kahuripan. Dari berbagai sumber menyebut, Raja Wengker yang dimaksud adalah Raden Kuda Amreta atau Bhreng Prameswara Ring Pamotan.

Raja Wengker yang bernama Abiseka Sri Wijayarajasa adalah suami Bhre Daha atau Haji Rajadewi. Operasi penangkapan Mahapatih Gajah Mada pun dijalankan. "Semua menteri, tanda dan rakrian mengepung rumah sang patih amangku bumi Gajah Mada," kata Slamet Muljana.

Pasukan Majapahit mengepung kediaman Gajah Mada. Dengan persenjataan lengkap, mereka bersorak-sorak sambil membunyikan kentong titir merangsek masuk ke halaman rumah Gajah Mada. 

"Pagar halaman telah dirusak, batasnya telah terhapus. Bala tentara berdesak masuk halaman," tulis Slamet Muljana.

Di dalam rumah, tidak ada satu pun punggawa Gajah Mada yang berani ke luar. Di dalam ruangan istri, Gajah Mada hanya bisa mondar-mandir gelisah. Melihat banyaknya bala tentara Majapahit, istri Gajah Mada meminta suaminya menyerah.

Dikisahkan dalam "Menuju Puncak Kemegahan, Sejarah Kerajaan Majapahit". Gajah Mada hanya mengenakan cawat geringsing. Selembar kain putih menyelubungi tubuhnya dengan sabuk atmaraksi melingkari pinggangnya. Kepungan bala tentara Majapahit tidak menggoyahkan semedinya.

Anehnya, saat menerobos masuk, bala tentara Majapahit hanya menjumpai istri Gajah Mada dengan keris terhunus di tangan. Semua tempat digeledah, sudut ruangan disisir, namun Gajah Mada yang mereka cari tidak berhasil ditemukan.

Tentara Majapahit yang marah malah menjarah semua harta benda yang ada. "Semua harta benda dijarah habis," kata Slamet Muljana.

Pasukan Majapahit kemudian dikerahkan untuk memburu Gajah Mada. Semua bergerak hingga ke dusun-dusun untuk menangkap Mahapatih yang telah menyatukan Nusantara tersebut. 

Kidung Sundayana menyebut, saat Mahapatih Gajah Mada bersemedi, jiwa raganya moksa ke Wisnuloka. Menyaksikan itu, seisi rumah kepatihan mencucurkan air mata. Begitu juga dengan istri Gajah Mada. Saat tentara Majapahit datang mengepung, istri Gajah Mada pergi meninggalkan rumah mencari tempat persembunyian.

Sebagai wujud kesetiaan kepada suami, dia melakukan bela pati dengan menikamkan keris ke dada. Kendati demikian, hingga kini tahun kematian Gajah Mada masih simpang siur.

Kitab Negarakertagama menuliskan, Gajah Mada wafat pada tahun 1364. Saat Gajah Mada mangkat, Raja Hayam Wuruk masih segar bugar. Hayam Wuruk baru saja tiba dari Candi Simping, Sawentar, Kabupaten Blitar begitu mendengar Gajah Mada telah mangkat, Hayam Wuruk langsung menggelar rapat besar.

Pada hari itu juga Kerajaan Majapahit mencari pengganti mahapatih yang sumpah palapanya pernah menggetarkan nusantara.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini