Share

5 Fakta Potensi Gempa M8,7 di Jakarta, Bisa Sebabkan Tsunami hingga 20 Meter

Tim Okezone, Okezone · Minggu 23 Januari 2022 05:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 23 337 2536330 5-fakta-potensi-gempa-m8-7-di-jakarta-bisa-sebabkan-tsunami-hingga-20-meter-NzRRY03xEa.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA – Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memberi peringatan mengenai potensi terjadinya gempa megathrust berkekuatan M 8,7 di Selat Sunda. Terkait hal ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan hasil pemodelan mengenai wilayah yang akan terdampak.

Berikut fakta-fakta dari perinatan tersebut:

1. Diguncang Gempa Destruktif

Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam Polemik MNC Trijaya FM bertajuk “Waspada Gempa Megathrust dan Bencana Hitrometrologi” secara daring menjelaskan bahwa efek gempa tersebut akan menyebabkan guncangan destruktif atau merusak.

“Kalau berdasarkan pemodelan shakemap, kalau 8,7 goncangan seperti apa? Yang jelas, Lampung, Banten, Jawa Barat terguncang mencapai 7-8 MMI (destruktif). Kerusakan sedang hingga berat, termasuk Jakarta, apalagi tanah Jakarta lunak, kerusakan bisa lebih parah juga,” katanya.

2. Tsunami Bisa Sampai 20 Meter

Kemudian untuk modelling tsunami, menurut Daryono, sangat bisa hasil modelling tsunami ini dijadikan acuan karena sudah dimitigasi oleh para ahli dan metodenya pun telah disepakati. Dalam pemodelan tsunami, Selat Sunda, Jabar, Bandar Lampung, bisa mencapai 15-20m, lalu bisa menyusut ke Selat Sunda memutar sampai ke utara Jakarta, tapi hanya 1,5m saja.

“Yang penting bukan saat pasang purnama karena tsunaminya bisa lebih tinggi. Termasuk juga terdampak ke pesisir Sumatera,” imbuhnya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

3. Mencari Daerah Aman dari Tsunami

Selain itu, sambung dia, BMKG juga membuat pemodelan landakan, sehingga bisa tahu daerah pesisir itu akan terlandak, tingginya berapa dan mana saja daerah yang aman.

“Ini (mitigasi) diberikan ke putra daerah untuk menjadi acuan mitigasi untuk membuat penataan berbasis mitigasi,” terangnya.

4. Sudah Risiko

Daryono menegaskan, karena bangsa Indonesia ditakdirkan untuk hidup di atas batas lempengan, maka itu menjadi risiko yang harus dihadapi. Sehingga, Indonesia harus bisa bertahan menyelesaikan masalah ini. Bukan hanya upaya-upaya yang harus dilakukan, tapi pemerintah juga terus mendukung dengan dipasangnya alat mitigasi yang lengkap di Selat Sunda.

“Sensor system ada 18, tide gauge ada 5, water level, automatic water system ada, IDSL punya KKP, BIG menaruh sensor tide gauge, 2 sirine tsunami yang ditempatkan Lampung dan Anyer, sirine tsunami ada 5 di sana,” ungkapnya.

5. Edukasi Harus Digalakan

Daryono menambahkan BMKG juga terus mengedukasi masyarakat dan stakeholder supaya punya respons dan dapat mengurangi risiko. Pihaknya selalu menyampaikan kepada masyarakat bahwa memang proses alam yang membahayakan ada, tapi masyarakat harus paham cara selamatnya.

“Memahami warning, memahami ciri-ciri alamiah agar kita selamat, ada guncangan gempa kuat harus menjauh dari pantai, lalu gempa yang mengayun lama kita juga harus menjauh dari pantai. Edukasinya kita ajarkan terus,” pungkas Daryono.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini