Share

Gempa M6,1 Guncang Melonguane Sulut, BNPB Sebut Warga Kepulauan Sangihe Tak Alami Kepanikan

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 22 Januari 2022 15:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 22 337 2536193 gempa-m6-1-guncang-melonguane-sulut-bnpb-sebut-warga-kepulauan-sangihe-tak-alami-kepanikan-Hl4cLQs6OW.jpg Foto: Illustrasi freepick

JAKARTA – Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6,1 yang terjadi di Sulawesi Utara, turut dirasakan warga Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud. Namun, meskipun guncangan sangat kuat, warga setempat tidak mengalami kepanikan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sangihe melaporkan guncangan kuat berlangsung singkat, sekitar 3 hingga 4 detik. Parameter gempa yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa M6,1 berpusat 39 km tenggara Melonguane, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 12 km.

Intensitas guncangan yang diukur dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) menunjukkan III – IV MMI di Melonguane. Melihat dari jenis dan mekanismenya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya deformasi lempeng laut Maluku. BMKG menyebutkan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik mendatar atau oblique thrust.

Baca juga:  BMKG Sebut Gempa Sulut Akibat Deformasi Lempeng Laut Maluku

Di samping itu, pantauan hingga Sabtu (22/1), pukul 11.30 WIB, sebanyak Sembilan aktivitas gempa susulan atau aftershock dengan magnitudo terbesar M4,5.

"Melihat analisis kajian inaRISK, Provinsi Sulawesi Utara memiliki 15 kabupaten dengan potensi bahaya gempa bumi kategori sedang hingga tinggi. Dua wilayah, Kepulauan Sangihe dan Talaud, tadi termasuk wilayah dengan potensi bahaya tersebut," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

Baca juga:  Melonguane Sulut Kembali Diguncang Gempa M4,8

Berdasarkan catatan gempa bumi, kata dia, Kepulauan Talaud pernah terdampak gempa yang merusak bangunan, seperti pada 1858, 1936, 1983 dan 2009. Pada Oktober 1983 gempa M4,9 memicu guncangan dengan intensitasi V MMI yang menyebabkan tembok bangunan retak, sedangkan pada April 1936 gempa besar hingga menghasilkan intensitas guncangan VIII – IX MMI.

"Kerusakan terjadi di Pulau Sangihe dan Talaud. Sebanyak 127 rumah warga roboh," sambungnya.

Sementara itu, pada Oktober 2009 terjadi gempa dengan M7,4 dengan kedalaman 10 km. Saat itu, gempa ini memicu kerusakan 597 rumah warga Kepulauan Talaud. Gempa juga mengakibatkan 64 orang luka-luka.

Menyikapi potensi bahaya gempa, pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siap siaga. Fenomena gempa dapat terjadi setiap saat dan belum ada teknologi yang dapat memprediksi waktu terjadinya.

"Selain potensi gempa, masyarakat di kawasan tersebut diharapkan juga siap siaga terhadap potensi bahaya lain, yaitu tsunami, yang dapat dipicu oleh gempa bumi," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini