Share

Muncul Fenomena Hybrid Immunity Covid-19, Ini Penjelasan Pakar

Antara, · Sabtu 22 Januari 2022 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 22 337 2536183 muncul-fenomena-hybrid-immunity-covid-19-ini-penjelasan-pakar-TdNvrXYDo3.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Spesialis paru dan akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) RSUD Dr. Soetomo, dr. Helmia Hasan, menjelaskan bahwa meski terdapat hybrid immunity atau imunitas hibrida terhadap Covid-19 tapi protokol kesehatan tetap perlu dilakukan untuk menghindari infeksi ulang.

Dia menjelaskan bahwa munculnya istilah hybrid immunity atau super immunity sebenarnya hampir tidak pernah terlihat di dalam studi medis dan lebih sesuai jika disebut hybrid immunity atau kekebalan individu yang diperoleh dari kombinasi imuniti yang didapat dari infeksi alami dan vaksinasi.

"Memang kombinasi antara seseorang yang sudah pernah sakit dan kemudian mendapatkan vaksinasi memang respons antibodinya lebih tinggi," kata Helmia dalam diskusi daring, Sabtu (22/1/2022).

Secara teori, jelasnya, individu yang telah divaksinasi dan yang pernah terinfeksi memiliki risiko rendah untuk terinfeksi kembali.

Infeksi natural dan vaksinasi menghasilkan neutralizing antibodies yang mempunyai peran proteksi yang utama terhadap virus Corona.

Baca juga: 7 Inovasi Anak Bangsa untuk Lawan Covid-19, Apa Saja?

Dia menjelaskan bahwa jumlah sel B memori, yang bertugas menyimpan atau mengingat gen dari zat asing untuk menghasilkan antibodi, meningkat 5-10 kali lipat pada hybrid immunity dibandingkan setelah infeksi natural atau vaksinasi saja.

Neutralizing antibodi juga 100 kali lebih tinggi jika memiliki hybrid immunity dibandingkan imuniti hasil dari infeksi atau vaksinasi saja.

Baca juga: Kasus Covid-19 Tembus 2 Ribu, Wapres: Pemda Harus Perketat Protokol Kesehatan

"Seseorang dengan hybrid immunity itu jarang sekali mengalami sakit yang parah dan bahwa kejadian adanya infeksi setelah hybrid immunity juga jarang, dibandingkan yang bukan hybrid immunity," jelasnya.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa meski terdapat hybrid immunity tetapi memiliki risiko tertular karena karakter mutasi virus yang sulit diketahui. Sehingga, protokol kesehatan tetapi menjadi hal utama dalam pencegahan Covid-19.

"Tetap protokol kesehatan karena kita tidak tahu sebetulnya kondisi antibodi kita di dalam tubuh, kondisi sel-sel kita di dalam tubuh. Jadi tetap melakukan protokol kesehatan supaya tidak tertular kembali," ujarnya.

Baca juga: Masyarakat Diingatkan Lebih Menjaga Prokes agar Tak Mudah Terinfeksi Covid-19

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini