Share

Bareskrim Ternyata Belum Terima Permohonan Penangguhan Ferdinand Hutahaean

Puteranegara Batubara, Okezone · Rabu 19 Januari 2022 18:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 19 337 2534729 bareskrim-ternyata-belum-terima-permohonan-penangguhan-ferdinand-hutahaean-6vzmEptnEV.jpg Foto: Antara

JAKARTA - Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri memastikkan, hingga saat ini belum menerima adanya surat permohonan penagguhan penahanan Ferdinand Hutahaean.

 (Baca juga: Ferdinand Hutahaean Sakit, Polri Gelar Perkara Bahas Permohonan Penangguhan Penahanan)

Sebelumnya, setelah ditetapkan tersangka dan ditahan dalam kasus dugaan ujaran kebencian bermuatan SARA, Ferdinand Hutahaean mengajukan permohonan penangguhan penahanan lewat pengacaranya.

"Penjelasan penyidik Ditipid Siber permohonan penangguhan penahanan atas nama tersangka FH sampai saat ini belum diterima," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan kepada awak media, Jakarta, Rabu (19/1/2022).

Ramadhan menjelaskan, jika nanti surat permohonan tersebut telah diterima, penyidik tidak serta merta akan mengajukan keinginan dari Ferdinand Hutahaean tersebut.

 (Baca juga: Ferdinand Hutahaean Sampaikan Permintaan Maaf dari Balik Penjara)

"Yang pasti dipertimbangkan dulu. Tentu akan menjaei pertimbangan apa yang menjadi alasan penagguhan penahanan," ujar Ramadhan.

Ia menekankan, Bareskrim tidak mau terburu-buru untuk mengabulkan penangguhan penahanan terhadap Ferdinand. Apalagi, saat ini, penyidik sedang mengebut pemberkasan dari perkara itu.

"Kita belum cepat-cepat mengambil keputusan. Kita lihat dulu alasannya apa. Proses tuh sedang berjalan menuju pemberkasan," tutup Ramadhan.

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Siber (Dit Tipidsiber) Bareskrim Polri resmi menetapkan Ferdinand Hutahaean sebagai tersangka ujaran kebencian. Ia juga telah ditahan di Rutan Bareskrim Polri.

Sejauh ini, polisi telah memeriksa saksi sebanyak 38 saksi terkait kasus ujaran kebencian yang menjerat Ferdinand Hutahaean. Jika dirincikan, saksi-saksi tersebut terdiri dari 17 saksi dan 21 saksi ahli.

Atas perbuatannya Ferdinand dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) KUHP dan Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal itu berkaitan dengan pelanggaran tersangka yang diduga bermuatan ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan keonaran.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini