Share

Kehancuran Samudra Pasai Dipicu oleh Ketamakam Sang Raja

Tim Okezone, Okezone · Rabu 19 Januari 2022 05:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 19 337 2534282 kehancuran-samudra-pasai-dipicu-oleh-ketamakam-sang-raja-B1mo0iTD0r.jpg Ilustrasi Kerajaan Samudra Pasai (Foto : Sindonews/Istimewa)

KERAJAAN Islam tertua di Indonesia Samudra Pasai berkembang sebagai pusat perdagangan dan pengembangan Islam di Selat Malaka, pada abad ke-13 sampai ke-16.

Sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga pernah mengeluarkan mata uangnya sendiri, yakni koin emas yang dinamakan deureuham atau dirham. Mata uang tersebut digunakan untuk perdagangan di tanah Melayu.

Dan hingga sekarang, mata uang tersebut menjadi yang tertua yang dikeluarkan kerajaan Islam di Asia Tenggara. Masa jaya kerajaan Islam ini, terjadi pada pemerintahan Sultan Muhammad Malik al-Zahir, pada 1297-1326.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Pada 1346 Masehi, terjadi pergantian kekuasaan dari Sultan Malikul Mahmud kepada putranya yaitu Ahmad Permadala Permala, dengan gelar kehormatan Sultan Ahmad Malik al-Zahir.

Dilansir dari Sindonews.com, dalam catatan sejarah dituliskan bahwa Sultan Ahmad Malik al-Zahir memiliki lima orang anak. Terdiri dari tiga orang putra, Tun Beraim Bapa, Tun Abdul Jalil, dan Tun Abdul Fadil, serta dua putri Tun Medam Peria dan Tun Takiah Dara.

Sultan Ahmad Malik al-Zahir dikenal sebagai raja yang memiliki citra buruk di mata masyarakatnya. Dia merupakan simbol kekuasaan yang rakus, bejat, dan amoral. Lebih buruk dari King Lear dalam drama William Shakespeare.

Dia memiliki nafsu memperkosa dua putri kandungnya sendiri. Dia juga tega membunuh putranya yang kesatria, karena melindungi dua adik perempuannya dari nafsu binatang sang ayah. Kisah ini pun berlangsung sangat tragis.

Baca Juga : Samudra Pasai, Kerajaan Islam Pertama Bikin Pasukan Majapahit Bertekuk Lutut

Tertulis dalam buku Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia, Binuko Amarseto, Tun Beraim Bapa berusaha melindungi kedua saudara perempuannya dengan menyembunyikan kedua saudarinya di sebuah tempat. Merasa mendapat pertentangan dari putra sulungnya sendiri, Sultan Ahmad Malik al-Zahir murka dan menyuruh utusan untuk membunuh Tun Beraim Bapa.

Sang putra mahkota yang seharusnya mewarisi tahta kerajaan itu tewas diracun. Merasa terharu dan tidak terima dengan perlakuan biadab sang ayah, Tun Medam Peria dan Tun Takiah Dara, kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka dengan meminum racun yang telah membunuh kakaknya.

Peristiwa tragis tersebut bukan membuat Sultan Ahmad Malik al-Zahir sadar, tetapi malah semakin menjadi-jadi. Ketika putra keduanya Tun Abdul Jalil, memandu asmara dengan putri Majapahit, Dyah Galuh Gemerencang, dia cemburu.

Alih-alih menggunakan kesempatan itu untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan Majapahit yang sedang berjaya, dia malah memantik konflik dengannya dengan membunuh putra kandungnya yang kedua, Tun Abdul Jalil. Pembunuhan ini terjadi ketika Dyah Galuh Gemerencang beserta para pengawalnya pergi ke Samudera Pasai.

Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan kabar pembunuhan Tun Abdul Jalil yang mayatnya dibuang ke dalam laut. Mendengar kekasih tercintanya, Tun Abdul Jalil tewas dibunuh sang ayah, Dyah Galuh Gemerencang lalu menyusul kekasihnya itu dengan menceburkan diri ke laut. Peristiwa ini pun terdengar hingga ke Majapahit.

Dipimpin langsung Gajah Mada, rombongan Kerajaan Majapahit yang terbakar amarah menggulung semua pasukan Kerajaan Samudera Pasai. Namun, serangan itu tidak menewaskan sang raja yang keburu kabur dari kerajaannya.

Pada 1385 Masehi, saat rombongan Kesultanan Delhi, tiba di Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan itu telah takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Masa kejayaan Kerajaan Samudera Pasai telah rontok sepenuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini