Share

Dewas KPK Terima 33 Laporan Pelanggaran Etik Sepanjang 2021

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Selasa 18 Januari 2022 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 18 337 2533935 dewas-kpk-terima-33-laporan-pelanggaran-etik-sepanjang-2021-DzdlQCA6ty.jfif Anggota Dewas KPK Albertina Ho. (Okezone)

JAKARTA - Dewan Pengawas (Dewas) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan sepanjang 2021 pihaknya menerima 33 laporan dugaan pelanggaran kode etik. Pelanggaran itu dilakukan pemimpin ataupun pegawai lembaga antikorupsi.

"Di tahun 2021 dewan pengawas itu menerima 33 dugaan pelanggaran kode etik. 33 dugaan pelanggaran kode etik ini bersumber dari 38 laporan," ujar Anggota Dewas KPK Albertina Ho dalam jumpa pers di Gedung C1 KPK, Jakarta, Selasa (18/1/2022).

Ia mengatakan, dari 38 laporan yang diterima Dewas, beberapa di antaranya isi laporannya sama. Setelah diidentifikasi, hanya 33 laporan yang ditangani.

"Nah dari 33 dugaan ini yang telah diselesaikan sebanyak 25 atau 75,76% . Dari 25 ini 7 dilanjutkan ke sidang, kemudian 18 itu tidak dilanjutkan ke sidang etik. Kemudian yang masih di dalam proses masih ada 8 yang dalam proses yaitu 24,24%," ucapnya.

Albertina mengatakan, dalam proses penyelesaian pelanggaran kode etik, Dewas memerlukan cukup waktu untuk menyelesaikannya. Itu karena beberapa laporan kurang didukung bukti bukti-bukti yang cukup.

Baca Juga : Lili Pintauli Terima Hukuman Potong Gaji karena Langgar Kode Etik

"Kadang-kadang laporan yang masuk itu hanya pemberitaan di media saja tidak ada bukti sama sekali. Nah, ini tentu saja kami memerlukan waktu yang cukup untuk mencari bukti-bukti mengenai laporan itu," kata Albertina.

Karena itu, ia melanjutkan, ada beberapa laporan yang cepat ditindaklanjuti oleh Dewas karena memiliki bukti-bukti yang mendukung. Sementara membutuhkan waktu untuk menyelesaikan laporan yang kurang bukti.

"Ini yang memerlukan waktu untuk dewan pengawas mencari bukti-bukti, sering Dewan Pengawas ditanya oleh media. 'Sudah sampai mana kok sudah lama dan sebagainya'. Karena buktinya itu yang dicari sangat sulit. Saya pikir enggak ada orang yang melakukan pelanggaran menebarkan bukti-bukti ya pasti itu disembunyikan sehingga sangat sulit kami untuk memperoleh," tutur Albertina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini