Share

Hadapi Gelombang Omicron, Kemenkes Siapkan Skenario Micro Lockdown

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 17 Januari 2022 22:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 17 337 2533633 hadapi-gelombang-omicron-kemenkes-siapkan-skenario-micro-lockdown-F10lzRSBU8.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Pemerintah memprediksi puncak gelombang kenakan kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 2022. Sementara itu, Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek) diperkirakan menjadi wilayah pertama yang menghadapi gelombang Omicron.

Baca juga: Satu Pasien Covid-19 Omicron Warga Kota Malang Disebut Sudah Sembuh

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan skenario untuk menghadapi potensi gelombang Omicron yakni melaksanakan mikro lockdown.

“Pilihan kita adalah tidak melakukan lockdown yang besar, tapi melakukan mikro lockdown. Bahkan menghadapi Omicron pun kita juga sudah diketahui juga akan memungkinkan untuk melakukan mikro lockdown. Artinya menghentikan kegiatan sementara,” kata Nadia saat dialog secara virtual, Senin (17/1/2022).

Baca juga: Menko PMK : Angka Absolut Kasus Covid-19 Selama Libur Nataru Kecil

Nadia pun mengungkapkan seperti halnya ketika ditemukan satu kasus Omicron di Wisma Atlet sehingga dilakukan mikro lockdown selama 7 hari. “Misalnya seperti kemarin di Wisma Atlet, pada waktu kita menjadi 1 kasus positif ditemukan kasus Omicron itu kan langsung 7 hari isolasi atau lockdown sementara dari Wisma Atlet.”

Selain di Wisma Atlet, Nadia juga mencontohkan seperti di Kelurahan Krukut Jakarta yang ditemukan kasus Omicron dan dilakukan mikro lockdown sehingga lebih cepat menyelesaikan masalah. “Dan contohnya di Jakarta, Kelurahan Krukut melakukan juga isolasi. Jadi betul-betul sesuai targetnya, dengan targeted ini akan lebih cepat menyelesaikan masalah,” kata Nadia.

Nadia mengatakan bahwa dengan mikro lockdown ini akan menyesuaikan kasus di tingkat daerah yang berbeda-beda. “Waktu itu mungkin ada daerah yang sebenarnya kasusnya hanya 1, 2 kasus, di daerah lain ada yang 40 atau 50, nah tentunya ini akan berbeda, yang tidak bisa disamaratakan.”

“Dan dengan melakukan mikro lockdown ini membuktikan kita bisa melokalisir dan mencegah klaster-klaster itu itu bermunculan,” tegas Nadia. (kha)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini