Share

Kepala Bappenas Ungkap Terdapat 80 Nama yang Diusulkan untuk Ibu Kota Baru

Kiswondari, Sindonews · Senin 17 Januari 2022 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 17 337 2533408 kepala-bappenas-ungkap-terdapat-80-nama-yang-diusulkan-untuk-ibu-kota-baru-moZ29brWjr.jfif Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. (Sindo/Sutikno)

JAKARTA – Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, mengungkap nama untuk ibu kota negara baru dipilih dari sekira 80 nama lainnya yang diusulkan.

Suharso menjelaskan, karena akan sangat besar sekali, banyak usulan nama yang diajukan. Misalnya Negara Jaya, Nusantara Jaya, Nusa Karya, Nusajaya, Pertiwipura, Wanapura, Cakrawalapura, Kertanegara.

“Ada sekitar 80-an lebih tetapi kemudian akhirnya dipilih kata Nusantara tanpa kata jaya,” tutur Suharso dalam Rapat Pansus RUU IKN di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (17/1/2021).

Ia mengatakan, daerah yang akan dijadikan lokasi ibu kota negara (IKN) baru akan menjadi kota setingkat provinsi.

“Yang pertama, tadi kami sudah konsultasi dengan ahli bahasa. Karena Pasal 1 ayat 1 itu berbunyi ibu kota negara adalah ibu kota NKRI. Maka selanjutnya yang ayat 2 untuk menghindari pengulangan,” kata Suharso.

Baca Juga : Kepala Bappenas Ungkap Nama Ibu Kota Baru : Nusantara

“Maka karena kemudian sudah disebut namanya, ada dua alternatif: 'Ibu kota negara yg bernama Nusantara adalah atuan pemerintah daerah yang bersifat khusus' jadi yang selanjutnya disebut IKN itu dihilangkan. Menurut ahli bahasa menjadi Ibu Kota Negara yang bernama Nusantara adalah satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus setingkat provinsi,” katanya.

Namun, Suharso belum mau mengungkapkan lebih rinci mengenai IKN baru itu sampai waktu skorsing dan sebetulnya ada sejumlah nama yang diusulkan Kemen PPN kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Penjelasan itu baru akan dia ungkap dalam rapat setelah skorsing bersama dengan ahli bahasa, ahli sejarah dan para pakar.

“Sebenernya nama yang kami ajukan pada Bapak Presiden cukup banyak sekali, termasuk kami panggil para ahli bahasa, ahli sejarah. Kemudian mereka yang punya otoritas untuk memberikan knowledge kepada kami, para pakar itu, untuk memilih kata-kata yang paling tepat,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini