Ketika Mahapatih Gajah Mada Lerai Perang Antara Dua Desa

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 15 Januari 2022 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 14 337 2532232 ketika-mahapatih-gajah-mada-lerai-perang-antara-dua-desa-Dzab7hMGcC.jpg Ilustrasi Kerajaan Majapahit (Foto: Ist)

JAKARTA - Kerajaan Majapahit sangat bertoleransi dalam beragama. Ada sebuah cuplikan peristiwa yang menunjukkan bagaimana kuatnya saling menghormati dan menghargai pada masa Majapahit.

Saat itu, Mahapatih Gajah Mada dalam perjalanannya saat menuju tanah perdikan mengalami berbagai peristiwa. Salah satunya yaitu peristiwa yang terjadi di Perkampungan Pamadan.

Kampung Pamadan merupakan sebuah desa yang harus dilalui ketika akan menuju tempat Madakaripura tersebut. Saat itu, Gajah Mada mendapati perkampungan dalam keadaan sepi. Demikian dikutip dari buku Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa, penulis Langit Kresna Hariadi.

Baca Juga: Misteriusnya Sosok Mahapatih Gajah Mada, Kelahiran dan Kematiannya Tidak Diketahui Pasti

Padahal, ketika beberapa kali didatanginya merupakan tempat yang amat hidup dan penuh geliat. Gajah Mada bertanya-tanya dalam hati. Ke mana perginya mereka. Untuk memastikan penasarannya, ia memutuskan berbelok ke sebuah rumah.

Namun, setelah mencoba masuk ke dalam rumah, ia tidak mendapati seorang pun di sana. Akhirnya, Gajah Mada memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah berpacu dengan kudanya beberapa saat, ia melihat ada hal yang berbeda.

Sebuah rumah, merupakan satu-satunya rumah yang mengalami nasib berbeda, hangus terbakar dan dengan kasat mata terlihat adanya jejak-jejak perusakan. Berbekal pengalaman yang dimiliki sebagai mantan pasukan khusus Bhayangkara, ia mencoba menelusuri jejak hangusnya tersebut.

Pada akhirnya, Gajah Mada terbelalak melihat pemandangan yang mendebarkan dari ketinggian tempatnya berada. Ia melihat sekelompok orang dalam sebuah barisan berhadapan dengan kelompok lain yang bersikap sama.

Baca Juga: Masuk Islam, Raja Majapahit Prabu Brawijaya V Moksa seperti Nabi Isa AS

Dikutip dari NU Online, dua kelompok itu terlihat seperti sedang bersiap untuk berperang habis-habisan. Selanjutnya, mereka diketahui berasal dari orang-orang yang berasal dari desa Saleces dan desa Pamadan. 

Konflik itu tersulut oleh peristiwa yang bermula dari anak gadis Ki Buyut Saleces yang dibawa lari oleh Ki Pintasmerti. Hal itu sertamerta dilakukan akibat dari penolakan secara mentah-mentah dari Ki Buyut Saleces, pemimpin dari desa Saleces, yang anak gadisnya dipinang oleh Ki Pintasmerti, pemimpin dari Desa Pamadan.

Penolakan itu mempunyai dua alasan. Pertama, anak gadisnya telah dijodohkan dengan kerabat bangsawan Lumajang. Alasan kedua yaitu dari pihak Ki Buyut Saleces beragama Syiwa, sedangkan Ki Pintasmerti menganut Budha.

Akhirnya, imbas dari perseteruan tersebut adalah bentrok dari kedua warga tersebut. Sebelum terjadi perpecahan yang menimbulkan korban, akhirnya Gajah Mada menampakkan diri di tengah-tengah dua kelompok itu.

Ia meminta keterangan lebih lanjut dari dua pihak yang berseteru. Sampai pada akhirnya, ia mengetahui bahwa sebenarnya kedua anak mereka saling mencintai. Namun, karena alasan yang sudah disebutkan di atas, mereka akhirnya melakukan tindakan tersebut.

Selain itu, Gajah Mada juga terkejut dengan fenomena yang ada di warga Saleces, bahwa mereka semua menganut Syiwa. Setelah Gajah Mada bertanya kepada warga, ternyata Ki Buyut Saleces sebagai pemimpin melarang warganya menganut ajaran selain Syiwa.

Jika ada yang menganut Budha, Ki Buyut mengancam mereka. Dari pengakuan tersebut, pada akhirnya Gajah Mada dengan suara lantang menjelaskan bahwa Majapahit memberikan pengakuan kepada agama Syiwa dan agama Budha serta meminta kepada semua penganutnya untuk hidup rukun dan berdampingan.

Hal itu semuanya diatur dalam Tripaksa. Karena mereka udah melakukan kesalahan, mereka disuruh menghadap ke kotaraja Majapahit untuk menghadap Prabu dan meminta hukuman yang setimpal.

Pada akhirnya, dengan karisma yang dimiliki oleh Gajah Mada, mereka menghadap kepada Prabu serta meminta hukuman yang setimpal atas perbuatannya dalam melanggar aturan toleransi yang terkandung dalam Tripaksa tersebut.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini