Share

Momen Raden Wijaya Dimabuk Asmara dan Bercumbu dengan Selirnya di Pura

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 14 Januari 2022 06:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 14 337 2531955 momen-raden-wijaya-dimabuk-asmara-dan-bercumbu-dengan-selirnya-di-pura-TkRoR2HbuR.jpg Raden Wijaya. (Foto: Wikimedia Commons/Wikipedia)

KISAH cinta Raja Raden Wijaya di Kerajaan Majapahit menarik dicermati. Sang raja pertama kerajaan ini bahkan dikisahkan pernah bercumbu dengan selirnya yang cantik jelita di sebuah pura.

Naskah kuno Kidung Panji Wijayakrama sebagaimana dikutip Slamet Muljana pada bukunya "Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit", mengisahkan bagaimana persaingan antara istri dan selir Raja Raden Wijaya. Kala itu Raden Wijaya memang memiliki seorang istri yang menjadi permaisuri yakni Tribhuwana.

Tetapi di sisi lain sang raja juga tercatat memiliki empat selir. Kidung Panji Wijayakrama menyatakan bahwa Dyah Dara Petak dianggap sebagai istri tertua, meski berstatus selir. Perempuan bergelar Indreswari ini memanaskan persaingan perempuan yang jadi istri - istri sang raja. 

Suatu ketika Dyah Dara Petak bercumbu dengan sang raja Raden Wijaya dalam pura, ia disebut sri tinuheng pura. Dyah Dara Petak bersaing dengan Putri Gayatri yang terkenal sebagai kekasih Sri Baginda Raden Wijaya. Gayatri merupakan putri bungsu Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari.

Baca juga: Gayatri Rajapatni, Putri Cantik Majapahit di Balik Pengangkatan Mahapatih Gajah Mada

Namun Dyah Dara Petak, putri Melayu, nyatanya lebih pandai mengambil hati Raja Kertarajasa. Hal itulah yang membuatnya dijadikan istri tertua padahal hanya selir. 

Dari sudut ini, dapat dipahami mengapa Raden Kala Gemet dapat naik tahta Kerajaan Majapahit, meskipun menurut Kidung Rangga Lawe, baik Tribuwana maupun Gayatri masing-masing mempunyai putra yakni Kuda Amrata dan Cakradakusuma.

Baca juga:  

Persaingan antara istri raja untuk memperoleh hak atas tahta bagi keturunannya juga dikenal dalam wiracarita Ramayana antara istri Raja Dasarata dari Ayodya, Dewi Kekayi yang menang dalam persaingan ini. Akibatnya, Sang Rama dan Laksmana tidak mendapat hak atas tahta kerajaan, bahkan dibuang ke hutan untuk menghindarkan pemberontakan. Kuda Amrata dan Cakradakusuma, menurut Kidung Rangga Lawe, masing-masing dijadikan pangeran (raja) Kahuripan dan Daha.

Pada Negarakertagama pupuh 48 / 1 sendiri, Raja Kertarajasa atau Raden Wijaya meninggalkan seorang putra dan dua orang putri. Putranya bernama Jayanegara, sedangkan nama dua putrinya tidak disebutkan. Hanya dinyatakan bahwa mereka lahir dari prawararajapthny anupama, yang satu menjadi Rani Jiwana atau Rani Kahuripan, yang lain Rani Daha atau Kediri.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Pada kitab Pararaton, Rani Kahuripan bergelar Bhreng Kahuripan, Rani Daha bergelar Bhreng Daha. Bhreng Kahuripan dalam piagam disebut Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani, sedangkan di Negarakertagama Pupuh 4, Rani Daha disebut Rajadewi Maharaja. 

Suaminya ialah Raja Wengker bernama Wijayarajasa, jelas sekali bahwa Rani Kahuripan kawin dengan Sri Kertawardhana. Dari perwakinan itu lahir Prabu Hayam Wuruk, baik Rani Daha maupun Rani Kahuripan masih hidup ketika Prapanca menjadi pembesar urusan agama Buddha di Kerajaan Majapahit.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini