Kemenkes Jelaskan Perbedaan Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Antara, · Kamis 13 Januari 2022 21:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 13 337 2531892 kemenkes-jelaskan-perbedaan-vaksin-booster-homolog-dan-heterolog-3KIQXofNNA.jpg Vaksinasi Covid-19 (Foto: RFI)

JAKARTA - Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengemukakan vaksin booster homolog dan heterolog dibedakan atas platform pembuatan, namun memiliki efikasi yang sama baiknya bagi daya tahan tubuh terhadap risiko penularan Covid-19.

"Vaksin booster diberikan setelah seseorang mendapatkan vaksin primer dosis lengkap, bertujuan untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan yang diberikan secara homolog dan heterolog," kata Siti Nadia Tarmizi, Kamis (13/1/2022).

Menurut Nadia, homolog artinya dosis ketiga menggunakan jenis vaksin yang sama dengan dosis satu dan kedua. Sedangkan heterolog menggunakan vaksin ketiga dengan jenis yang berbeda.

Ia mengatakan perbedaan jenis vaksin terletak pada platform vaksin. Misalnya Sinovac yang dibuat dengan platform inactivated virus atau virus yang dimatikan, AstraZeneca menggunakan adenovirus atau virus adeno hidup yang telah dimodifikasi sebagai 'pengirim' protein khusus.

Baca juga: Kemenkes Klaim Hari Pertama Vaksinasi Booster Berjalan Lancar

Vaksin lainnya adalah Moderna dan Pfizer yang sama-sama berplatform mRNA atau messenger RNA. Vaksin mRNA merupakan jenis vaksin baru. "Jadi maksudnya jenis vaksin homolog atau heterolog adalah platformnya sama atau berbeda, bukan mereknya," katanya.

Nadia mencontohkan, jika vaksin primer dosis pertama dan kedua yang diterima Sinovac, maka dosis ketiga homolognya juga bisa vaksin dengan jenis virus yang sudah dimatikan.

Baca juga: Pemerintah Lacak Transmisi Lokal Pelaku Perjalanan Bogor-Jakarta

"Kalau vaksin Moderna atau Pfizer itu kan vaksin dengan platform mRNA, nanti bisa kalau homolog itu menggunakan jenis vaksin yang platformnya sama," katanya.

Nadia mengatakan vaksin booster heterolog adalah salah satu kebijakan pemerintah di mana vaksin heterolog menggunakan vaksin ketiga dengan jenis yang berbeda dengan vaksin primer dosis satu dan kedua.

"Misalnya vaksin Sinovac yang dibuat dari virus yang dimatikan diberikan untuk dosis satu dan dosis kedua, tapi kemudian di dosis ketiga kita berikan vaksin dengan platform mRNA yaitu Pfizer atau Moderna," katanya.

Pelaksanaan vaksinasi booster saat ini, kata Nadia, diperuntukkan bagi penerima booster minimal enam bulan pada periode Januari sampai Juni 2021. "Pada waktu itu kita menggunakan vaksin Sinovac dan AstraZeneca," katanya.

Baca juga: Vaksin Booster, Warga Lansia Berharap Terhindar dari Omicron

Oleh karena itu regimen vaksin booster yang keluarkan pemerintah adalah untuk sasaran masyarakat di atas usia 18 tahun yang mendapatkan vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca.

"Kalau mendapatkan Sinovac dua kali, maka kemungkinan dosis ketiga itu bisa dengan vaksin AstraZeneca atau Pfizer. tergantung nanti yang ada di faskesnya," katanya.

Baca juga: Kemenkes Terbitkan Surat Edaran Pelaksanaan Vaksinasi Booster Covid-19

Untuk masyarakat mendapatkan suntikan dosis lengkap AstraZeneca, kata Nadia, maka untuk boosternya bisa menggunakan Moderna atau Pfizer.

"Apapun jenisnya hasil penelitian menyebutkan peningkatan titer antibodinya sama," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini