3 Alasan Penting Vaksinasi Booster Covid-19

Dita Angga R, Sindonews · Rabu 12 Januari 2022 03:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 12 337 2530796 3-alasan-penting-vaksinasi-booster-covid-19-NKMuepH1dJ.jpg Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito (Foto: BNPB)

JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan ada tiga alasan vaksin booster dilakukan saat ini di Indonesia. Adapun vaksin booster akan dimulai pada hari ini, Rabu 12 Januari 2022.

Pertama, kata Wiku, adanya kecenderungan penurunan jumlah antibodi pasca enam bulan vaksinasi. Apalagi, saat ini di tengah banyaknya kemunculan varian-varian Covid-19 baru, termasuk varian omicron.

“Diketahui bahwa efektivitas empat vaksin yang sudah mendapatkan EUA dari WHO mengalami penurunan efektivitas sebesar 8% dalam 6 bulan terakhir pada seluruh kelompok umur. Dalam kurun waktu yang sama, kepada orang dengan usia 50 tahun ke atas terjadi penurunan efektivitas vaksin sebesar 10% dan 32% untuk mencegah kemunculan gejala,” katanya dikutip dari siaran Kanal Youtube BNPB Indonesia.

Baca Juga: Tinjau Vaksinasi Serentak Se-Indonesia, Kapolri Minta Percepatan Akselerasi

Kedua, vaksinasi booster merupakan bentuk usaha adaptasi masyarakat hidup di masa pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan demi ketahanan kesehatan masyarakat jangka panjang.

Ketiga adalah memenuhi hak setiap orang Indonesia untuk mengakses vaksin demi perlindungan diri dan komunitas.

“Nantinya vaksin booster akan diberikan secara gratis dengan beberapa skema pemberian oleh pemerintah atau mitra badan hukum atau badan usaha. Vaksin booster akan terlebih dahulu diberikan kepada kabupaten kota dengan cakupan 70% dosis pertama dan cakupan 60% dosis kedua sebagai acuan percepatan vaksinasi,” ungkapnya.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan 350 Juta Dosis Vaksin Booster

Selain itu, adanya vaksin booster secara tidak langsung dapat menjadi modal untuk penguatan upaya pemulihan ekonomi. Menurutnya, dengan kondisi kasus yang dapat ditekan, maka akan mencegah kemunculan gelombang baru.

“Maka, aktivitas masyarakat akan semakin fleksibel dengan catatan tetap berada dalam koridor penerapan protokol kesehatan ketat sebagaimana PPKM levelling yang diterapkan dengan prinsip, jika kasus semakin terkendali maka aktivitas masyarakat dapat semakin lebih produktif,” pungkasnya.

(Ari)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini