3 Kisah Kecantikan Perempuan Jawa Picu Pertumpahan Darah: Dari Ken Dedes hingga Roro Mendut

Tim Okezone, Okezone · Rabu 12 Januari 2022 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 11 337 2530576 3-kisah-kecantikan-perempuan-jawa-picu-pertumpahan-darah-dari-ken-dedes-hingga-roro-mendut-XYo6vf7wBj.jpg Perempuan Jawa (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Perempuan Jawa dikenal akan kelembutan dan kecantikannya yang membuat kaum adam melakukan apa saja untuk mendapatkan cintanya. Sejarah juga mencatat sejumlah pertumpahan dara karena pesona dari para dara Jawa tersebut.

Terdapat beberapa kitab karya pujangga kuno Jawa tentang perempuan Jawa yang cantik jelita, di antaranya adalah Aji Asmaragama, Katurangganing Wanita, Niti Mani, dan Serat Centini.

Selain itu, ada juga cerita rakyat dan sejarah yang membahas kecantikan perempuan jawa. Era kerajaan Mataram kuno muncul legenda kecantikan Roro Jonggrang. Di suatu ketika terdapat dua kerajaan yang bertetanggaan yaitu Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka.

Kerajaan Pengging dipimpin oleh Bandung Bondowoso sedangkan Kerajaan Baka oleh Prabu Baka. Saat peperangan antarkeduanya, kerajaan Baka kalah dengan meninggalnya Prabu Baka di tangan Bandung Bondowoso. Kekalahan tersebut membuat Bandung Bondowoso menguasai kerajaan Baka.

Di sana, ia melihat Roro Jonggrang dan terpesona hingga melamarnya. Tentu saja niatnya tersebut ditolak oleh Roro Jonggrang. Karena sangat memaksa, Roro Jonggrang memberikan syarat untuk membangun seribu candi dalam semalam.

Baca juga: Ciri-Ciri Gairah Asmara Wanita versi Primbon Jawa

Bandung Bondowoso dibantu oleh bangsa jin sehingga pada tengah malam tersisa satu candi. Untuk menggagalkannya, Roro Jonggrang memanggil semua wanita untuk membakar jerami dan memukul lesung. Suara ayam mulai berkokok, para makhluk halus mengira pagi telah datang dan mereka kembali ke alamnya. Akibatnya, hanya 999 candi saja yang berhasil dibangun sehingga Bandung Bondowoso gagal mewujudkan permintaan Roro Jonggrang.

Baca juga: Kecantikan Perempuan Jawa dalam Kacamata Raffles

Sadar telah dikelabuhi Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso murka dan mengutuk gadis pujaannya itu agar menjadi arca ke-1000 dan para wanita dikutuk untuk tidak ada yang mau menikahi hingga perawan tua. Sang putri berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir.

Kisah lainnya dalam sejarah adalah perang saudara perebutan kekuasaan antara Balaputradewa dan Pramodhawardani. Nama Pramodawardhani ditemukan dalam prasasti Kayumwungan sebagai putri Maharaja Samaratungga dari dinasti Syailendra. Balaputradewa adalah raja kerajaan Sriwijaya putra Samaragrawira.

Prof. N.J. Krom menganggap Samaragrawira identik dengan Samaratungga, sehingga Balaputradewa dianggap sebagai saudara Pramodawardhani.

Dr. De Casparis kemudian menyusun teori bahwa telah terjadi perang saudara memperebutkan takhta sepeninggal Samaratungga, antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani. Akhirnya Balaputradewa dikalahkan Rakai Pikatan suami Pramodawardhani. Balaputradewa kemudian menyingkir ke Pulau Sumatera dan menjadi raja Kerajaan Sriwijaya.

Baca juga: Kisah Kecantikan Perempuan Jawa yang Menimbulkan Pertumpahan Darah

Dalam kitab Pararaton diceritakan tentang Ken Dedes. Ia dikenal sebagai perempuan Jawa yang memiliki kecantikan yang sempurna. Ken Dedes adalah anak dari Mpu Purwa.

Akuwu Tumapel Tunggul Ametung sangat terpesona dengan Ken Dedes saat pertama kali melihatnya. Tak menunggu waktu lama ia menculik Ken Dedes ke Tumapel lalu mempersuntingnya.

Baca juga: Cinta Ken Arok Bersemi untuk Ken Dedes di Lokasi Ini, Begini Kondisinya Sekarang

Di Tumapel, Tunggul Ametung memiliki seorang pengawal kepercayaannya yang terkenal gagah berani, bernama Ken Arok. Saat mengawal Ken Dedes, tak sengaja kain yang dikenakan Ken Dedes tersingkap angin saat turun dari kereta sehingga pahanya yang putih mulus terlihat sangat jelas. Melihat pemandangan itu, Ken Arok pusing tujuh keliling.

Ia pun bertekad akan merebut Ken Dedes sehingga Ken Arok nekad membunuh Tunggul Ametung dengan keris Empu Gandring.

Selanjutnya Roro Mendut, pada abad ke-17, di pesisir pantai utara Pulau Jawa tepatnya di Pati, hiduplah seorang gadis bernama Rara Mendut. Rara Mendut memiliki kecantikan yang luar biasa sehingga ia menjadi rebutan para pria dari mulai dari kalangan rakyat biasa, bangsawan, hingga panglima perang.

Kendati demikian, Roro Mendut adalah gadis yang berpendirian kuat. Ia tak sungkan-sungkan menolak lamaran lelaki yang datang meminangnya. Sebab, ia telah memiliki kekasih bernama Pronocitro, pemuda tampan dari daerah asalnya, Pati.

Suatu ketika, Kesultanan Mataram sedang memperluas wilayah kekuasaannya termasuk di kawasan pesisir utara Jawa. Dikirimlah Panglima Tumenggung Wiroguno untuk menaklukkan wilayah tersebut.

Baca juga: Dua Raja Kerajaan Galuh Berperang Imbas Larangan Pernikahan Sunda-Jawa

Tak butuh waktu lama, wilayah tersebut berhasil direbut. Sebagai tanda takluknya kadipaten Pati, Tumenggung Wiroguno mengambil upeti harta benda termasuk memboyong putri cantik Roro Mendut untuk dibawa ke Mataram.

Meski Roro Mendut telah menjadi putri boyongan di Mataram,ia tetap bersikukuh tidak mau dijadikan delir Tumenggung Wiroguno. Justru Pronocitro menyusul ke Mataram. Mereka berdua lalu kabur dari kediaman Wiroguno. Akibatnya Wiroguno murka, mereka pun dikejar-kejar.

Baca juga: Kerendahan Hati Gajah Mada, Pernah Tolak Jabatan Penting Meski Ditawari Langsung

Pronocitro tewas di ujung keris Wiroguno. Sedang Memdut, melihat kekasihnya terkapar lantas bunuh diri, mencabut keris yang menancap di tubuh Pronocitro dan menikamkan ke badannya. Mereka berdua tewas membela cinta dan harga diri.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini