Share

Kisah Putra Hoegeng Batal Jadi Taruna Akabri

Fay Cilla, Okezone · Selasa 11 Januari 2022 06:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 10 337 2530119 kisah-putra-hoegeng-batal-jadi-taruna-akabri-nkpDWQrZSg.jpg Hoegeng (Ist)

HOEGENG merupakan ialah salah satu mantan Kapolri pada era pemerintahan Presiden Soeharto. Hoegeng dikenal sebagai sosok yang jujur, disiplin, dan sederhana. Mantan Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid, pun mengakui Hoegeng merupakan polisi yang jujur.

Komitmen Hoegeng terhadap sifatnya juga diterapkan Hoegeng kepada anak-anaknya. Hoegeng mengajarkan anak-anaknya untuk hidup mandiri dan tak bergantung pada dirinya atau orang lain.

Seperti saat putra Hoegeng ingin mendaftar sebagai taruna Angkatan Udara di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), ialah Aditya Soetanto Hoegeng atau yang akrab dipanggil Didit.

Saat itu Didit mendaftar dalam AKABRI tanpa sepengetahuan ayahnya. Pendaftaran dibuka di Komando Daerah Angkatan Udara (Kodau) V di Jalan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Setelah menjalani semua persyaratan dan seleksi, akhirnya Didit lolos untuk menjalani pendidikan di Magelang, Jawa Tengah.

Namun, sebelum kepergiannya ke Magelang ia harus menjalani seleksi terakhir. Dalam seleksi itu ia harus meminta tanda tangan orang tua. Alasannya, Didit adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, jadi mau tak mau ia harus memberitahu orang tuanya.

Lalu kemudian Didit datang ke kantor ayahnya setelah menelepon ajudannya yakni Kadar Mulyono. Didit diperbolehkan datang. Ia berharap hari itu mendapatkan surat izin. Namun, ajudan mengatakan Didit dapat bertemu setelah para tamu ayahnya pulang.

Baca Juga : Cara Hoegeng Didik Anaknya: Tak Pernah Berikan Uang Jajan sejak SMP hingga Izinkan Jualan Koran

Setelah menunggu beberapa jam lamanya, Didit dipanggil untuk masuk ke ruangan Hoegeng. Namun bukan raut wajah senang karena kehadiran Didit, ayahnya justru terlihat dengan raut wajah tidak suka atas kehadiran Didit.

Hoegeng yang melihat anaknya tersebut bertanya “Ada maksud apa ke sini?” ucap Hoegeng,

Lalu Didit menjelaskan maksud kehadirannya. Hoegeng pun menjawab “Ya sudah, nanti saja.” Didit pun keluar dan pulang.

Bukan maksud Hoegeng untuk menunda-nunda Didit karena mengulur waktu surat izinnya. Namun, setelah beberapa hari Didit akhirnya memberanikan diri untuk bertanya karena Didit takut jika nanti terlambat memberikan surat izin dan dia tak akan jadi taruna.

Setelah 3 hari, Didit dipanggil ke kantor Hoegeng. Ia mengira ayahnya akan langsung memberikan surat izin. Namun alih-alih diberikan surat, Hoegeng tidak menyetujui Didit menjadi Taruna.

“Tidak menjadi polisi kan? Biar bapakmu saja yang menjadi polisi. Hanya ada satu Hoegeng di kepolisian. Tak boleh ada dua Hoegeng,” ucap Hoegeng.

Sumber: Buku Hoegeng Polisi dan Mentri Teladan karya Suhartono

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini