Share

Sekjen PDIP Ngaku Belum Adakan Pertemuan soal Kandidat Pilgub DKI 2024

Widya Michella, MNC Media · Minggu 09 Januari 2022 17:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 09 337 2529568 sekjen-pdip-ngaku-belum-adakan-pertemuan-soal-kandidat-pilgub-dki-2024-7PD6BN3Hv3.jpg Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto (foto: Okezone)

JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengaku belum menggelar pertemuan soal kandidat yang akan maju dalam Pilgub DKI 2024. Walaupun begitu, PDIP, kata Hasto telah menunjuk mantan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat untuk merumuskan skala prioritas dan persoalan di Jakarta.

"Belum, belum ada ,tetapi karena kita juga pak Djarot misalnya, itu punya pengalaman sebagai Gubernur Jakarta. Tentu saja pak Djarot juga ditugaskan untuk ikut merumuskan skala prioritas buat jakarta itu seperti apa ,ini yang ingin dilakukan oleh PDI Perjuangan," ucapnya kepada wartawan, Minggu,(09/1/2022).

"Kemudian pak Djarot punya pengalaman dalam memanage jakarta, sehingga tau akar persoalan di Jakarta," ujar dia.

Baca juga:  Soal Cagub DKI, Gerindra: M Taufik Tak Wakili Sikap Resmi Partai

Hasto menyampaikan, Djarot juga ditugaskan PDIP untuk merancang bagaimana kehidupan Jakarta ke depan. Sehingga, menurutnya Djarot tidak hanya berfokus pada gedung gedung mewah pencakar langit di Jakarta.

"Maka pak Djarot juga ditugaskan untuk merancang bagaimana Jakarta ke depan agar kehidupan di Jakarta itu betul-betul menjadi bagian dari kebanggaan kita, bukan karena gedung-gedung megah nya. Tetapi ada hal yang lebih hakiki dari itu, tentang kebahagiaan warganya, lingkungannya yang indah dan asri, kebudayaan itulah yang akan ditonjolkan oleh PDI Perjuangan," ucap dia.

Baca juga:  Masa Jabatan Berakhir Oktober 2022, Wagub Ariza Belum Terpikir Pilgub DKI

Hasto pun mengatakan, Djarot melihat kondisi Jakarta yang. seperti Poco-Poco. Salah satunya adalah kondisi Tanah Abang yang semakin macet dan berubah usai berganti kepemimpinan di DKI Jakarta.

"Ini pak Djarot melihat ini kok rasanya seperti poco-poco juga, maju mundur Tanah Abang dulu udah beres. Tanah Abang enggak macet, tiba-tiba ganti pemimpin, Tanah Abang menjadi macet, Tanah Abang menjadi berubah,"ujar dia.

Menurutnya tidak seperti jaman Djarot dimana waduk-waduk dikelola dengan baik. Namun saat ini berbeda yang mana camat Cakung mengeluhkan adanya sodetan yang tidak berjalan baik untuk mencegah banjir.

"Dulu waduk-waduk dikelola dengan sangat baik, contohnya tadi aspirasi dari camat (Cakung) itu kan untuk sodetan aja udah berapa lama nggak berjalan. Padahal itu penting di dalam menjaga upaya untuk mencegah banjir," tuturnya.

"Jadi pergantian pemimpin kalau tidak memahami hakikat kepemimpinan untuk rakyat, maka yang terjadi adalah kemunduran," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini