Share

Humor Gus Dur: Cerita Tidak Naik Kelas hingga Suka Nonton Wayang Lupa Waktu

Tim Okezone, Okezone · Minggu 09 Januari 2022 05:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 08 337 2529278 humor-gus-dur-cerita-tidak-naik-kelas-hingga-suka-nonton-wayang-lupa-waktu-ku4h8m1JKK.jpg Gus Dur (Foto: NU Online)

JAKARTAKH Abdurrahman Wahid atau kerap dipanggil Gus Dur adalah sosok yang tak mudah dilupakan. Sejak kecil, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang tangguh dan sudah belajar untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya.

Pendidikan karakter ini didapatkan semasa usia 5-8 tahun dari kakek buyutnya sendiri, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Menurut NU Online, hal ini diungkapkan Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Lilik Ummi Kaltsum saat Webinar Haul Ke-11 Gus Dur dengan tema Gus Dur di Mata Para Cendekiawan yang diselenggarakan Gusdurian Ciputat pada tahun lalu. Pada webinar kala itu hadir juga Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman.

Lilik yang juga anggota pentashih Al-Qur’an Kemenag RI mengatakan sejak kecil Gus Dur memang sering diasuh oleh mbahnya, Kiai Hasyim. Kiai Hasyim mendidik Gus Dur dengan mengajarkan materi-materi keagamaan seperti cara membaca Al-Qur'an yang baik dan benar, shalat, dan praktik ibadah lainnya.

Baca juga: Humor Gus Dur: Makna di Balik Langkah Zigzag dan Jurus Dewa Mabok

Gus Dur juga diajarkan cara bersikap yang baik terhadap siapapun. Di sisi lain, Gus Dur sering menonton pertunjukan wayang sejak kecil. Gus Dur melakukan itu tanpa memberitahu kakeknya. "Gus Dur ketika kecil suka nonton wayang, bahkan sampai Subuh. Keluar pun tanpa meminta izin kepada Mbahnya," ujar doktor kelahiran Surabaya tersebut.

Baca juga: Humor Gus Dur: Misteri Hantu Penunggu Rumah Pondok Indah

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Kebiasaan Gus Dur itu tidak membuat marah kakeknya. Bahkan Kiai Hasyim mengalihkan perhatian Gus Dur untuk belajar bahasa asing kepada seorang pengusaha gula Belanda saat itu. Sehingga, Gus Dur semasa kecil sudah menguasai bahasa-bahasa asing seperti bahasa Belanda, Jerman, dan Inggris.

Gus Dur juga mengenal musik-musik Barat seperti simfoni. Semenjak wafat kakek dan ayahnya, Gus Dur menjadi sosok yang menjadi harapan bagi keluarganya untuk membantu mencari nafkah. Sejak usia SD, ia membantu perekonomian dengan menjual beras. Berjualan dari pagi dengan naik angkot sampai pulangnya naik truk. Di sela-sela berjualannya, Gus Dur juga menyempatkan untuk membaca buku. Karena kesibukan dan perjuangannya, Gus Dur sampai tidak naik kelas. Selain berjualan, ia juga membantu ibunya untuk mengurus kelima adiknya.

"Kesibukan dan tanggung jawabnya yang luar biasa inilah, Gus Dur sampai tidak naik kelas secara sekolah formal," terang Lilik.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini