Share

Satgas Covid-19: Angka Kematian Harian Tunjukkan Tren Penurunan

Indra Purnomo, MNC Portal · Kamis 06 Januari 2022 18:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 06 337 2528480 satgas-covid-19-angka-kematian-harian-tunjukkan-tren-penurunan-A4r6S0httM.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebut, angka kematian harian di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam 14 hari terakhir.

"Jika pada dua minggu lalu angka kematian adalah 8 dalam sehari, saat ini angka kematian adalah sebesar 4 orang dalam sehari," ujar Wiku dalam konferensi pers dikutip kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (6/1/2022).

Tidak hanya indikator angka kematian harian saja yang mengalami penurunan, angka keterisian tempat tidur atau BOR untuk keperluan ICU juga menunjukkan tren penurunan setidaknya dalam 10 hari terakhir.

"Sementara BOR untuk isolasi mengalami peningkatan, BOR untuk ICU justru mengalami penurunan. Jika dalam 10 hari kebelakang keterisian BOR ICU adalah 3,95% dalam satu hari, angka ini konsisten mengalami penurunan hingga saat ini hanya sebesar 3,23% dalam sehari," jelasnya.

Meski demikian, terdapat empat indikator yang mengalami peningkatan antara lain, kasus aktif, kasus positif, positivity rate, serta BOR isolasi. Menurutnya, hal ini merupakan fakta bahwa telah terjadi peningkatan penularan di masyarakat.

Baca Juga : 618 Personel Polisi Jaga Lokasi Karantina Pelaku Perjalanan Luar Negeri

Wiku menjelaskan, adanya tren kenaikan dan penurunan dalam indikator-indikator tersebut, menunjukkan adanya tingkat penularan dan jumlah orang positif yang tidak diikuti dengan kebutuhan perawatan dan kematian. Ini menunjukkan kasus yang saat ini terjadi cenderung tidak bergejala atau bergejala ringan.

"Hal ini dapat terjadi karena dua hal, yaitu karakteristik varian Omicron yang saat ini beredar dan menginfeksi masyarakat yang cenderung bergejala ringan dan tanpa bergejala, serta yang kedua kekebalan yang terbentuk di masyarakat baik akibat tertular maupun yang dipicu oleh vaksinasi," bebernya.

Namun, lanjut Wiku, fenomena ini tentu perlu untuk dipelajari lebih lanjut dengan metode yang baik dan benar sebelum dapat disimpulkan sebabnya. Meskipun demkian, penting untuk tetap berupaya menurunkan peningkayan kasus yang sudah mulai terjadi.

"Kita perlu menyadari bahwa kita memiliki keterbatasan fasilitas dan sumber daya kesehatan, serta yang terpenting memberi celah untuk penularan semakin meluas sama dengan menempatkan kelompok rentan dalam resiko yang lebih tinggi. Bukan tidak mungkin, kelompok rentan tersebut adalah orang-orang terdekat yang kita cintai," kata Wiku.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini