Share

Kasus Dugaan TPPU Bupati Hulu Sungai Utara, KPK Periksa 13 Saksi

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Kamis 06 Januari 2022 12:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 06 337 2528232 kasus-dugaan-tppu-bupati-hulu-sungai-utara-kpk-periksa-13-saksi-rRylMKUaps.jpeg Gedung KPK. (Foto: Okezone.com/Arie Dwi)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap 13 orang saksi terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat Bupati nonaktif Hulu Sungai Utara (HSU) Abdul Wahid.

Mereka yakni Mantan ajudan Bupati/Kabag Humas Kabupaten HSU, Moch Arifil alias Iping. Lalu empat pihak swasta yakni Zainal Arifin, Ismawati, Farid Wajidi, dan Mahyuni.

Selanjutnya, dua pensiunan BPN HSU, Kastalani dan Rosidah; Peternak ayam, Kharnadi Ilham; PNS Iqbal Husaini; CV Khuripan Jaya Karliansyah/ Haji Angkar; CV Aulia Putra Khairil; CV CPN Mahyuni; BKD Muhammad Yusri;

"Hari ini (6/1) pemeriksaan saksi TPPU HSU Pemeriksaan dilakukan di Polres Hulu Sungai Utara," ujar Plt Juru bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Kamis (6/1/2022).

Baca juga: OTT Wali Kota Bekasi, Ketua KPK : Catatan Buruk Upaya Pemberantasan Korupsi!

Diketahui, KPK telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek irigasi di Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan. Ketiganya adalah Plt Kadis Pekerjaan Umum (PU) HSU, Maliki (MK); Direktur CV Hanamas, Marhaini (MRH); dan Direktur CV Kalpataru, Fachriadi (FRH).

Terbaru, KPK telah menetapkan Bupati Hulu Sungai Utara, Abdul Wahid (AW) sebagai tersangka dugaan suap pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalsel tahun 2021-2022.

Selain itu, KPK juga telah menetapkan Bupati Hulu Sungai Utara, Abdul Wahid (AW) tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Sebelumnya, Abdul telah ditetapkan sebagai tersangka suap pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalsel tahun 2021-2022.

Ditetapkannya Abdul sebagai tersangka TPPU karena tim penyidik telah mendalami dan menganalisa dari rangkaian alat bukti yang ditemukan dalam proses penyidikan perkara suap dan gratifikasi.

Abdul diduga menerima uang dari Maliki untuk dapat menempati posisi Plt Kepala Dinas PUPRP Kabupaten HSU. Penerimaan uang itu dilakukan Abdul di rumah Maliki pada sekitar Desember 2018 yang diserahkan langsung oleh Maliki melalui ajudan Abdul.

Lalu pada awal tahun 2021, Maliki menemui Abdul di rumah dinas Bupati untuk melaporkan terkait plotting paket pekerjaan lelang pada Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPRP Hulu Sungai Utara tahun 2021. Maliki telah menyusun sedemikian rupa dan menyebutkan nama-nama dari para kontraktor yang akan dimenangkan dan mengerjakan berbagai proyek dimaksud.

Selanjutnya, Abdul, menyetujui paket plotting tersebut dengan syarat adanya pemberian komitmen fee dari nilai proyek dengan persentase pembagian fee yaitu 10% untuk Abdul dan 5% untuk Maliki. Keduanya mendapatkan Rp 500 juta dari Direktur CV Hanamas, Marhaini (MRH); dan Direktur CV Kalpataru, Fachriadi (FRH).

Selain melalui perantaraan Maliki, Abdul juga diduga menerima komitmen fee dari beberapa proyek lainnya melalui perantaraan beberapa pihak di Dinas PUPRP Kabupaten Hulu Sungai Utara, yakni Tahun 2019 sejumlah sekitar Rp4,6 Miliar, Tahun 2020 sejumlah sekitar Rp12 Miliar dan Tahun 2021 sejumlah sekitar Rp1,8 Miliar.

Atas perbuatannya, Abdul disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Jo. Pasal 64 KUHP Jo. Pasal 65 KUHP.  

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini