Share

Sriwijaya, Kerajaan Pertama Indonesia yang Kuasai Perdagangan hingga Mancanegara

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 06 Januari 2022 05:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 06 337 2528055 sriwijaya-kerajaan-pertama-indonesia-yang-kuasai-perdagangan-hingga-mancanegara-fg6uh1RDpl.jpeg Kerajaan Sriwijaya. (Foto: Istimewa)

KERAJAAN Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar di tanah Sumatera yang mengandalkan perdagangan kala itu. Penaklukan-penaklukan wilayah di sekitarnya pada abad ke-7 kian menguatkan posisi Sriwijaya sebagai kerajaan yang diperhitungkan di Nusantara.

Apalagi secara letak, Pulau Sumatera memiliki lokasi cukup strategis bagi kegiatan perdagangan internasional.  Hal ini memungkinkan karena Pulau Sumatera digunakan sebagai jalur pelayaran sejak masa prasejarah, terutama dalam rangka perdagangan rempah-rempah.

Kebesaran Kerajaan Sriwijaya dikisahkan pada Buku "Airlangga : Biografi Raja Pembaru Jawa Abadi XI" tulisan Ninie Susanti, di mana pada kenyataannya Sriwijaya muncul sebagai pelabuhan transit dagang yang penting bagi jalur dagang melalui laut karena banyak disinggahi oleh pedagang dari berbagai bangsa di dunia. 

Sriwijaya merupakan kekuatan pertama dalam sejarah Indonesia yang berhasil mendominasi wilayah Selat Malaka. Kerajaan memegang kunci perdagangan dan pelayaran baik ke negeri Cina, maupun ke negeri-negeri lainnya.

Sriwijaya pun memulai ekspansi ke utara yang bukan hanya dimaksudkan untuk mengendalikan lalu lintas bahari yang keluar masuk selat, melainkan ditujukan pula untuk menguasai penyeberangan darat melalui tanah genting Kra. 

Baca juga: 5 Prasasti Kutukan di Kerajaan Sriwijaya, Isinya Mengerikan

Di samping itu, ekspedisi ke selatan juga disiapkan Kerajaan Sriwijaya, hal ini untuk menaklukkan bumi Jawa yang biasanya ditafsirkan sebagai usaha ekspansi ke Jawa Barat. Suatu rencana untuk memasukkan pantai sebelah Selat Sunda dalam kekuasaan Sriwijaya. Keterangan ini menjawab mengapa Sriwijaya melakukan ekspansi pada awal perkembangannya dan mengeluarkan prasasti-prasasti yang berisi kutukan. 

Guna meluaskan kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan mengirimkan utusan ke Cina. Pada waktu itu Raja Sri Cudamaniwarmadewa mengirimkan utusan ke Cina pada 1003 dan 1008. Sementara utusan kedua dikirimkan Sriwijaya saat masa pemerintahan Raja Sri Marawijayotungawarman. 

Raja-raja Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan Chola dan Cina yang pada saat itu merupakan dua kekuatan besar di kawasan Asia Tenggara. Persahabatan tersebut diartikan sebagai antisipasi ancaman dari Jawa. Pada catatan Dinasti Sung, Sriwijaya diperkirakan menghadapi lawannya dari Pulau Jawa, yang tak lain adalah Mataram Kuno, yang saat itu diperintah oleh Raja Dharmmawangsa Tguh.  

Hubungan diplomatik itu terus berlanjut terjadi pada 1016, 1017, dan 1018 saat utusan Sriwijaya dikirimkan ke Cina. Untuk kepentingan diplomatik, Sriwijaya tak keberatan membayar upeti kepada Cina dan mengakui sebagai negara yang berkuasa. Ini adalah bagian dari usaha diplomatik untuk menjamin agar Cina tidak membuka perdagangan langsung dengan negara lain di Asia Tenggara yang dapat merugikan Sriwijaya. 

Sedangkan persahabatan dengan Chola diwujudkan dengan bantuan pendirian bangunan suci agama Buddha di Nagipattana oleh Raja Chola bernama Raja Kesariwarman Rajaraja I pada 1005-1006 Masehi. Bangunan ini selanjutnya diberi nama Cudamanivarmavihara. 

Konon Chola ini berlokasi di India selatan, yang merupakan salah satu kerajaan besar dalam tradisi Tamil. Kerajaan Chola mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Rajaraja I tahun 985 - 1014 Masehi. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini