Share

Batu Sakral Warisan Prabu Siliwangi yang Tandai Keruntuhan Kerajaan Pajajaran

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 05 Januari 2022 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 04 337 2527525 batu-sakral-warisan-prabu-siliwangi-yang-tandai-keruntuhan-kerajaan-pajajaran-EFcLoV9pom.jpg Prabu Siliwangi (foto: istimewa)

SERANGAN ketiga Kesultanan Banten ke Kerajaan Pajajaran membuat riwayatnya tamat. Di akhir masa Kerajaan Pajajaran ini ditandai dengan pemindahan batu yang merupakan simbol dari kerajaan saat bertahta, sekaligus tamatnya riwayat Pajajaran. Pemindahan batu ini dilakukan oleh Maulana Yusuf penguasa Banten, yang melakukan ekspansi ke ibu kota Pakuan, Pajajaran.

Kisah pemindahan batu ini tercantum pada buku "Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" tulisan Fery Taufiq El Jaquenne. Dimana dikisahkan batu yang dipindahkan oleh Maulana Yusuf bernama Palangka Sriman Sriwacana.

Baca juga:  Runtuhnya Kerajaan Pajajaran Usai Prabu Siliwangi Turun Jabatan

Istilah batu Palangka sendiri secara umum memiliki arti tempat duduk, yang dalam bahasa Sunda berarti pangcalikan, yang secara kontekstual bagi Kerajaan Pajajaran, adalah tahta. Padahal ini tahta tersebut melambangkan tempat duduk khusus, yang diperkenankan pada upacara penobatan seorang raja.

Di atas Palangka itulah, calon raja diberkati dengan berbagai prosesi upacara oleh pendeta tertinggi. Tempat Palangka berada di kabuyutan kerajaan, bukan di dalam istana. Sesuai dengan budaya Pajajaran, tahta tersebut dibuat dari batu dan diasah hingga halus mengkilap.

Baca juga:  Pengkhianatan Komandan Pengawal Istana Berujung Banten Taklukkan Kerajaan Pajajaran

Kemudian diberi bahan tertentu yang fungsinya menjadikan batu tersebut serasa memiliki kesakralan tersendiri. Dari penduduk asli Sunda, menyebut batu Ini sebagai batu pangcalikan atau batu ranjang. Batu Pangcalikan sekarang bisa ditemukan di makam kuno dekat Situ Sangiang di Desa Cibalanarik, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya dan di Karang Kamulyan, bekas pusat Kerajaan Galuh di Ciamis.

Sedangkan batu ranjang dengan kaki yang diukir dapat ditemukan di Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang. Letaknya di kawasan petakan sawah, yang terjepit pohon.

Perihal batu ini semasa Pajajaran sejak Prabu Siliwangi memang difungsikan sebagai tempat duduk, saat dinobatkan sebagai raja Pajajaran. Batu berukuran panjang 200 sentimeter, lebar 160 sentimeter, dan 20 sentimeter dari tingginya dibawa ke Banten. Pemindahan batu ini karena budaya politik pada waktu itu mengharuskan melakukan cara demikian.

Pemindahan batu ini membuat tak ada lagi penobatan raja baru di Pajajaran. Selain itu pemindahan itu sengaja dilakukan oleh Banten guna memperkuat legitimasi Sultan Banten Maulana Yusuf yang menahbiskan menjadi penerus kekuasaan Pajajaran yang sah.

Apalagi buyut perempuan Maulana Yusuf adalah putri dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Sementara itu di sisi lain, seluruh atribut dan perangkat Kerajaan Pajajaran secara resmi telah diserahkan kepada Kerajaan Sumedang Larang, melalui empat Kandaga Lante.

Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini berada di depan keraton Surawosan di Banten. Karena wujudnya yang mengkilap, dan berbeda dengan batu lainnya, banyak orang Banten menyebutnya watu gigilang. Istilah gigilang artinya berseri atau mengkilap, sama dengan arti kata sriman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini