Copet hingga Maling Merajalela Saat Prabu Nilakendra Memerintah Kerajaan Pajajaran

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 01 Januari 2022 06:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 01 337 2525820 copet-hingga-maling-merajalela-saat-prabu-nilakendra-memerintah-kerajaan-pajajaran-Ri3Pt2Cm2I.jpeg Ilustrasi Kerajaan Pajajaran. (Foto: Historyofcirebon.id)

PRABU Nilakendra yang memerintah Kerajaan Pajajaran usai Ratu Sakti, terkenal tidak terlalu menjamin keamanan rakyatnya. Padahal di masa Nilakendra ini Pajajaran mulai membangun sejumlah infrastruktur secara fisik demi menarik pandangan mata.

Sejumlah taman di depan keraton dibangun, tak ketinggalan keraton juga direkonstruksi ulang dengan memiliki 17 buah tiang 17. Tembok - tembok istana dengan ukiran bermacam-macam terpampang. 

Tetapi sebagaimana buku "Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" dari Fery Taufiq El Jaquenne, pembangunan fisik yang dilakukan Nilakendra tak diimbangi dengan pembangunan spiritual dan kepastian keamanan.

Padahal jika ia belajar dari sejarah, seharusnya Nilakendra tahu bahwa Pajajaran mengalami kemerosotan signifikan, salah satunya karena faktor keamanan. Pasca Prabu Siliwangi memerintah, wilayah Pajajaran semakin sering diganggu keamanannya oleh musuh.

Bahkan di masa zaman Nilakendra, musuh - musuh sudah mulai mendekat ke dalam keraton. Masyarakat Sunda sudah banyak yang membangkang, mulai pemerintahan, pemuka agama, hingga raja mereka di daerah kekuasaan Pajajaran. 

Baca juga: Kekuatan Mengerikan Pasukan Elite Kerajaan Pajajaran di Masa Prabu Siliwangi

Parahnya di masa Nilakendra, Pakuan tidak memperhatikan lagi keadaan masyarakat. Prinsip "nyatu tampa ponyo, nginum twak tamba hanaang" atau makan sekadar lapar, minum menghilangkan dahaga, sudah tidak lagi ada. Namun yang justru, "wong huma darpa mamangan, Tan igar yan yan pepelekan" yang berarti para petani merasa kurang makanan, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu. 

Di masa pemerintahan Nilakendra, ditemukan banyak rakyat mulai frustasi. Mereka takut sewaktu-waktu ada musuh datang menyerang, sedangkan kerajaan tidak pernah memperhatikan keadaan rakyat. Sejauh ini yang diperhatikan pihak keraton hanya masalah Cirebon dan Banten.

Padahal selain itu, banyak musuh - musuh yang datang, seperti preman, copet, penipu, maling, dan lain sebagainya. Pada keadaan seperti ini, konon dikisahkan datang pasukan "tambuh sangkane" dari Banten menyerbu Pakuan, ibu kota Kerajaan Pajajaran.

Naskah Carita Parahyangan menceritakan bagaimana akhirnya Prabu Nilakendra ini kalah perang. Sejak saat itulah ia terpaksa melarikan diri dari keraton. Ia beserta rombongan dan para pengiringnya mengungsi ke daerah Sukabumi selatan.

Ketika ada penyerangan dari Banten, rakyat mengamankan diri sendiri. Mereka banyak mengungsi dari pelosok kota, yang sekiranya tidak terjangkau oleh prajurit Banten. Sebagian lagi melarikan diri ke Pulasari.

Para abdi negara sebagian banyak masih di keraton, tetapi ada juga yang kembali ke negara di bawahan Pajajaran. Menurut carita pantun disebutkan, di Pakuan masih terdapat orang-orang pengawal raja yang disebut Bareusan Panganginan. Konon terdapat tiga orang senopati yang mengendalikan Pajajaran di antaranya yaitu Demang Haurtangtu, Puun Buluh Pananjung dan Guru Alas Lintang Kedesan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini