Share

Jayabaya Sakti Mandraguna, Petilasannya di Kediri Ramai Dikunjungi

Solopos.com, · Rabu 22 Desember 2021 19:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 22 337 2521165 jayabaya-sakti-mandraguna-petilasannya-di-kediri-ramai-dikunjungi-Lioqhhw5SD.jpg Ilustrasi (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Raja Kediri Sri Aji Jayabaya dikenal sebagai tokoh yang sakti mandraguna. Dia merupakan ahli nujum dengan berbagai ramalan yang kerap teruji kebenarannya.

Jayabaya memiliki petilasan di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Bekas peninggalan Jayabya hingga kini selalu didatangi peziarah.

Dilansir dari sebuah karya ilmiah bertajuk Proses dan Fungsi Ritual Tirakatan di Petilasan Sri Aji Jayabaya Desa Menang Kota Kediri Propinsi Jawa Timur Sebuah Kajian Folklor dilansir Solopos Rabu (22/12/2021), petilasan Jayabaya dipercaya masyarakat Jawa tradisional sebagai tempat moksa Sang Prabu Kediri itu.

Jayabaya memerintah Kerajaan Kediri pada tahun 1135-1157. Kala itu, ia diklaim sebagai orang yang berhasil membawa Kerajaan Kediri pada masa kejayaan. Selama memerintah Kerajaan Kediri dirinya menyusun berbagai karya sastra yang sat ini dikenal dengan Ramalan Jayabaya atau Jangka Jayabaya.

Ramalan itu dinilai memiliki ketepatan dan relevansi yang kuat hingga saat ini membuat Jayabaya dijuluki sebagai Nostradamus versi Jawa.

Baca juga: Ramalan Jayabaya yang Dianggap Jadi Kenyataan

Petilasannyaa berupa situs yang dipagari tembok bangunan baru setinggi lima meter dengan luas 25 meter persegi menjadi magnet ribuan manusia di setiap perayaan 1 Sura atau Muharam. Tiap memasuki malam 1 Sura, masyarakat dari dalam dan luar Kota Kediri berbondong-bondong memadati Petilasan Sri Aji Jayabaya berharap mendapat berkah.

Baca juga: Ramalan Jayabaya : Dianggap Mitos dan Dipercaya Masyarakat

Kesaktian Jayabaya Berawal dari Mimpi

Tradisi lisan yang berkembang di Petilasan Sri Aji Jayabaya ini bermula dari mimipi seorang tokoh spiritualis bernama Warsodikromo pada 1860. Dalam mimpinya, dia melihat gundukan tanah yang telah menjadi rawa dan di sana dipercaya sebagai takhta seorang Raja Kediri yang tersohor, yaitu Sri Aji Jayabaya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Berbekal petuah dalam mimpi tersebut, penduduk mengadakan pencarian yang dibantu seorang ahli metafisik hingga petilasan atau peninggalan Kerajaan Kediri itu berhasil ditemukan. Letaknya berada di bawah naungan pohon kemuning dan mulai saat itu, tempat yang dulunya hanya sebuah gundukan tanah tersebut mulai ramai didatangi pengunjung untuk berziarah.

Pada 1975, keluarga besar Hondodento memugar petilasan yang terdiri dari Pamoksan Sri Aji Jayabaya dan Sendang Tirtokamandu. Bangunan Pamoksan Sri Aji Jayabaya yang dipugar meliputi Loka Muksa, Loka Busana serta Loka Makuta. Sebelumnya banyak juga di antara peziarah yang datang dan ingin memugar, namun belum ada satupun yang dapat menyelesaikan pemugaran tersebut.

Setelah keluarga besar Hondodento berhasil memugar Pamoksan Sri Aji Jayabaya, kemudian dilanjutkan dengan pemugaran Sendang Tirtokamandu, sekitar satu kilo dari Pamoksan Sri Aji Jayabaya. Sendang ini konon digunakan untuk memandikan putra-putri Raja Jayabaya sebelum mengunjungi pamuksan.

Baca juga: Ramalan Jayabaya, Ibarat Bintang di Langit Anggota Tikus Pithi Diklaim Sulit Dihitung

Ritual

Sendang Tirtokamandanu dan pamoksan Sri Aji Jayabaya sekarang tidak hanya dipadati peziarah menjelang 1 Sura atau Muharam saja, tetapi setiap malam Jumat Legi dan Selasa Kliwon juga ramai oleh kedatangan peziarah yang kebanyakan berasal dari luar Kota Kediri.

Mereka datang dengan berbagai permintaan, seperti dipertemukan jodoh, kelancaran usaha dagang, kesembuhan dan kesembuhan dari penyakit yang diderita. Namun selain meminta berkah, banyak peziarah yang juga hanya ingin mencari ketenangan saja.

Baca juga: Menguak Ramalan Jayabaya soal sosok Ratu Adil

Kegiatan ziarah yang dilakukan masyarakat dengan mendatangi tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti petilasan, sebenarnya memiliki hubungan erat dengan emosi keagamaan yang dimiliki masing-masing pribadi. Ahli antropolog, Koentjoroningrat (1967), berpendapat, emosi keagamaan adalah suatu getaran jiwa yang ada pada manusia pada waktu-waktu tertentu. Meskipun emosi keagamaan itu hanya sesaat, namun perasaan itulah yang mendorong orang untuk berperilaku serba religius.

Perilaku manusia yang serba religius ini mendorong mereka untuk mendatangi tempat-tempat keramat yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur atau dewa-dewi atau kekuatan-kekuatan gaib yang tersimpan dalam tempat keramat itu. Tempat-tempat keramat itulah yang kemudian pusat kegiatan keagamaan.

Selain petilasan Sri Aji Jayabaya, banyak petilasan lain di Kabupaten Kerdiri yang banyak memiliki kisah-kisah mitos yang masih lestari sehingga kegiatan religi masyarakat setempat masih ramai dilakukan hingga sekarang.

Baca juga: Mengenal Prabu Jayabaya dengan Kesaktian Meramalnya

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini