Share

Cerita Mantan Preman Diburu Petrus hingga Kabur ke Luar Negeri

Alvin Agung Sanjaya, Okezone · Kamis 23 Desember 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 22 337 2521048 cerita-mantan-preman-diburu-petrus-hingga-kabur-ke-luar-negeri-n6osCTDNN2.jpg Ilustrasi (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Berbagai ulah preman di rezim Orde Baru pernah meresahkan masyarakat. Aksi premanisme sudah kelewat batas sehingga pemerintah mengambil sikap tegas dengan menurunkan penembak misterius alias petrus.

Para preman di era 1980-an itu dikenal dengan sebutan GALI alias gerombolan anak liar yang menjadi perhatian khusus pemerintah Orba yang pada saat itu sangat marak pembajakan bus.

"Mereka sudah keterlaluan," kata Panglima Kopkamtib Laksamana Soedomo dalam pertemuannya dengan pengusaha bus pada akhir Maret 1982.

Pembajakan bus juga terjadi di Jawa. Tidak kurang dari 21 bus dibajak di Pulau Jawa selama Februari-Maret 1982.

Karena itu, menurut Bathi Mulyono mantan Ketua Yayasan Fajar Menyingsing, salah satu organisasi preman terkuat di Jawa Tengah ini yakin meningkatnya pembajakan di atas bus justru dilakukan orang suruhan pemerintah. Tujuannya untuk menciptakan pembenaran operasi pembersihan GALI pada 1980-an.

Baca juga: Francisca Fanggidaej, Pejuang yang Dihapus dari Sejarah Oleh Orde Baru karena G30S PKI

Dikutip dari buku Benny Moerdani yang Belum Terungkap, upaya pembersihan preman dari permintaan Presiden Soeharto ini agar aparat keamanan menindak para penjahat yang merajalela. Berbagai operasi keamanan kemudian digelar di Indonesia.

Saat itu, Kapolri Asaloedin Djamin menyatakan, hingga September 1982, Operasi Sikat, Langgis, Pukat, Rajawali, Cerah, dan Parkit di wilayah Indonesia berhasil menangkap 1.946 penjahat dengan beberapa di antaranya mati tertembak dan mengalami luka berat.

Baca juga: Humor Gus Dur: Ketika Soeharto dan Harmoko Naik Haji

Ketika operasi pembersihan para GALI merebak di Jawa Tengah, rumah Bathi Mulyono di Kebonharjo, Semarang, digerebek sekelompok orang pada awal 1983. Orang-orang itu bersenjata laras panjang dan bertopeng, istrinya Siti Noerhayati ditodong dan rumah itu digeledah, tapi mereka tak menemukan Bathi.

"Sejak itu, selama empat tahun, setiap malam istri saya sering teriak-teriak saking depresinya," kata Bathi.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Bathi menyingkir ke Jakarta dan menghadap Ali Moertopo, bekas Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara. Menurut Bathi, di masa Ali berkuasa, para preman dibina dalam berbagai organisasi. Selain Fajar Menyingsing yang dipimpin Bathi, ada The Prems di DKI Jakarta dan Massa 33 di Jawa Timur.

Namun pengaruh Ali Moertopo meredup. Benny Moerdani muncul dengan sikap yang berbeda.

"Mungkin bagi tugas saya sudah selesai. Karena tak punya alasan untuk membubarkan organisasi kami, muncullah pola pembunuhan yang sistematis, terencana, dan berlaku di seluruh Indonesia itu," kata Bathi.

Bathi mendapat selembar surat jaminan dari Ali Moertopo agar tidak dibunuh, tapi tetap merasa belum aman. Sehingga ia pun sempat berpindah-pindah tempat, termasuk ke Malaysia, Singapura, dan Brunei.

"Saya punya paspor lima dengan nama yang berbeda-beda," ucapnya.

Baca juga: Jika Soeharto Raja Orde Baru, Maka Ali Moertopo adalah Patihnya

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini