Share

IDI : Waspada Potensi Penularan Lokal Varian Omicron

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 20 Desember 2021 11:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 20 337 2519709 idi-waspada-potensi-penularan-lokal-varian-omicron-Wm4DVLpW2k.jpg Ketua Umum PB IDI Daeng Mohammad Faqih (Dok Okezone)

JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih, meminta untuk mewaspadai potensi terjadinya transmisi lokal dari Covid-19 varian Omicron. Saat ini, sudah ada tiga kasus varian Omicron yang ditemukan di Indonesia.

Daeng mengatakan, virus Covid-19 varian Omicron ini memiliki kecepatan penularan yang tinggi. Karena itu, jika transmisi lokal tidak diwaspadai maka akan terjadi kasus orang sakit dalam waktu yang singkat.

“Jadi sebenarnya adalah pada Covid (varian Omicron) ini karena kecepatan penularan yang tinggi. Sehingga kalau transmisi lokal itu tidak diwaspadai, maka akan terjadi banyak orang yang sakit dalam tempo waktu yang cukup pendek. Sehingga kemudian itu yang kepanikan masyarakat ya,” ucap Daeng dalam keterangannya, Senin (20/12/2021).

“Karena kalau jumlah yang sakit banyak padahal tempat terbatas, logistik obat dan yang lain terbatas, itu pasti akan dikhawatirkan terjadi seperti lonjakan. Ini yang harus kita antisipasi,” tuturnya.

Daeng mengatakan, saat ini yang harus diantisipasi adalah khusus di daerah karantina, jangan sampai terjadi penularan di luar karantina.

Baca Juga : Terungkap! Kasus Omicron Pertama di Indonesia Diduga "Dibawa" WNI dari Nigeria

“Tetapi sekarang antisipasinya lebih kearah antisipasi di daerah karantina. Apakah di daerah karantina itu sudah keluar atau tidak. Kalau sudah keluar dari karantina, ada kecenderungan sudah keluar dari karantina sudah jelas apa yang dinyatakan bapak Presiden itu transmisi lokal harus betul-betul di diwaspadai dan dicegah,” ujarnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Namun, kata Daeng, jika nanti terjadi transmisi lokal,jurus-jurus atau prosedur penanganan seperti saat lonjakan kasus Covid-19 kedua di Tanah Air beberapa waktu lalu harus dilakukan. Seperti memperketat protokol kesehatan, kemudian melakukan konversi tempat tidur-tempat tidur untuk ruang perawatan Covid-19.

“Kalau itu yang kita lakukan, maka jurus-jurus atau prosedur yang seperti seperti apa lonjakan kedua itu udah mulai harus dilakukan kemudian sudah harus prokes diperketat, kemudian sudah menyiapkan konversi di pelayanan dari yang menangani pasien lain, disiapkan konversi menjadi layanan Covid, kemudian layanan-layanan disiapkan ya. Jadi jadi ancang-ancang itu sudah disiapkan kalau dari analisis dari pemeriksaan itu penularan sudah masuk ke transmisi lokal, bukan hanya di tempat karantina,” tutur Daeng.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini