Share

Terdakwa Korupsi Asabri Dituntut Hukuman Mati, Bos PT Trada: Kezaliman Luar Biasa

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 13 Desember 2021 23:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 13 337 2516511 terdakwa-korupsi-asabri-dituntut-hukuman-mati-bos-pt-trada-kezaliman-luar-biasa-RlUlWvRcfL.jpg Bos PT Trada Heru Hidayat (Foto: Okezone.com/Arie DS)

JAKARTA - Terdakwa perkara dugaan korupsi pengelolaan dana PT Asabri, Heru Hidayat merasa dizalimi lantaran dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Selaku Presiden Komisaris PT Trada Alam Sejahtera, Heru diyakini terbukti melakukan korupsi dana PT Asabri yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp22,788 triliun.

Heru Hidayat merasa dizalimi atas tuntutan tim jaksa tersebut. Melalui nota pembelaannya (pleidoi), Heru menolak dituntut hukuman mati oleh jaksa pada Kejaksaan Agung (Kejagung). Menurutnya, tuntutan tim jaksa tidak sesuai dengan koridor hukum dan kaidah moral.

"Tuntutan yang tidak sesuai dengan koridor hukum dan kaidah moral. Sungguh suatu kezaliman yang luar biasa. Kezaliman yang berlindung dibalik topeng Penegak Hukum," ujar Heru saat membacakan nota pembelaannua di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (13/12/2021).

Heru menilai, tuntutan hukuman mati tim jaksa tidak sesuai dengan pasal yang ada dalam dakwaan. Sebab, tim jaksa tidak mencantumkan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) dalam surat dakwaan Heru Hidayat. Tim jaksa, kata Heru, hanya menerapkan Pasal 2 ayat (1) dalam surat dakwaannya.

"Lalu kenapa mendadak dalam surat tuntutan jaksa menuntut mati? Sementara dalam poin satu amar tuntutannya Jaksa menyatakan saya bersalah di Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor," ujarnya.

Ia meminta agar hakim bertindak bijaksana dalam memvonisnya. Ia pun memohon kepada hakim agar tidak divonis hukuman mati. "Tuntutan mati yang dibacakan Jaksa minggu lalu adalah suatu bentuk 'abuse of power' yang sangat zalim. Kewenangan menuntut yang dimiliki oleh Jaksa malah digunakan dengan menyimpang dari koridor hukum," ucapnya.

Baca Juga : Terdakwa Korupsi Kasus Asabri Dituntut Hukuman Mati, Ini Kata Pakar Hukum

Hal senada juga ditekankan oleh Kuasa Hukum Heru Hidayat, Kresna Hutauruk. Ditegaskan Kresna, jaksa tidak pernah menyisipkan Pasal 2 ayat (2) dalam surat dakwaan kliennya. Padahal, sambung dia, surat dakwaan adalah acuan dan batasan dalam persidangan perkara ini.

"Selain itu juga tuntutan JPU bahwa perkara ini adalah pengulangan tindak pidana sangat keliru, karena tempus perkara ini adalah 2012-2019, sebelum Pak Heru dihukum di kasus AJS (Asuransi Jiwasraya)," ungkap Kresna saat mendampingi Heru di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

"Sedangkan yang dimaksud pengulangan tindak pidana adalah tindak pidana yang dilakukan setelah seseorang divonis, sehingga jelas perkara ini bukan pengulangan tindak pidana," imbuhnya.

Tak hanya itu, ditekankan Kresna, dalam perkara yang menyeret Heru Hidayat ini juga tidak ditemukan ada suap dan gratifikasi. Bahkan, dakwaan dan tuntutan tim jaksa juga dinilai tidak pernah menyinggung adanya suap atau gratifikasi kepada pejabat PT Asabri.

"Sehingga jelas tidak ada niat jahat dari Pak Heru ataupun pihak Asabri dalam perkara ini. Sebagaimana kita ketahui bersama, perkara Tipikor itu identik dengan suap atau gratifikasi, sedang dalam perkara ini Pak Heru terbukti tidak melakukan hal tersebut," klaimnya.

Atas dasar itu, Kresna sangat berharap agar kliennya tidak dihukum sesuai dengan tuntutan yang diajukan tim jaksa. Ia percaya hakim akan memutus perkara Heru Hidayat sesuai dengan koridor hukum yang adil.

"Tentunya saat ini kami berharap agar majelis hakim dapat memutus perkara ini sesuai dengan koridor hukum dan fakta yang terjadi dalam persidangan ini sehingga menghasilkan putusan yang adil," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini