Share

Kongres Umat II MUI Hasilkan 9 Poin Resolusi Jihad

Antara, · Senin 13 Desember 2021 16:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 13 337 2516335 kongres-umat-ii-mui-hasilkan-9-poin-resolusi-jihad-XKIwdbiSbF.jpg Kongres Umat MUI/ Antara

JAKARTA - Kongres Ekonomi Umat II Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diselenggarakan di Jakarta pada 10 Desember hingga 12 Desember 2021 melahirkan sembilan poin Resolusi Jihad Ekonomi Umat.

(Baca juga: Ketimpangan Sektor Pertanahan Tinggi, Jokowi: Saya Pernah Jadi Orang Susah)

“Kongres Ekonomi Umat ini fokus bagaimana umat Islam di Indonesia yang merupakan mayoritas juga bisa memiliki peran serta secara optimal dan maksimal dalam ekonomi Indonesia,” ujar Ketua Steering Commite Kongres Ekonomi Umat, Lukmanul Hakim, pada penutupan Kongres Ekonomi Umat II di Jakarta.

(Baca juga: MUI Dukung Densus 88 Tangkap Teroris, Tidak Ada Kriminalisasi Ulama dan Islamophobia)

Menurutnya, Resolusi Jihad Ekonomi Umat yang merupakan hasil kongres yang mengusung tema “Arus Baru Penguatan Ekonomi Indonesia” itu, terdiri dari sembilan poin yakni Gerakan produksi dan belanja nasional, mewujudkan Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia, mengoptimalkan Ziswaf untuk menggerakkan ekonomi Umat, menghadirkan lembaga penjaminan nasional Syariah untuk usaha ultra mikro dan mikro yang mudah, murah dan aman.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal MUI, M Azrul Tanjung, mengapresiasi kerja keras Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang telah mendistribusikan 4 juta hektare lahan kepada umat dari 12 juta hektare yang dijanjikan.

“Presiden juga memiliki komitmen mengalokasikan 30 persen kredit bagi UMKM dan yang tak kalah penting komitmen Presiden menjadikan Indonesia sebagai pusat halal dunia,” kata Azrul.

Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan, mengatakan hasil Kongres Ekonomi Umat yang pertama pada 2017 lalu menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia.

“Kongres Ekonomi Umat kedua ini juga demikian, penguatan sumber daya manusia melalui resolusi jihad ekonomi. Ada dua hal yang perlu dikuatkan yakni kecakapan hidup dan kompetensi nonteknis (soft skill). Ini merupakan dua kekuatan yang penting untuk saat ini,” kata Amirsyah.

Kekuatan nonteknis merupakan kekuatan untuk menggalang sinergi, sumber daya manusia dan sumber daya alam yang luar biasa. Amirsyah juga menekankan perlunya menjaga sumber daya alam Indonesia yang ada untuk kesejahteraan rakyat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini