Share

Campur Tangan Mossad Israel Bantu Satuan Khusus Intelijen Lacak Sisa-Sisa PKI

Mohammad Adrianto S, Okezone · Senin 13 Desember 2021 11:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 13 337 2516145 campur-tangan-mossad-israel-bantu-satuan-khusus-intelijen-lacak-sisa-sisa-pki-mmAaQamgHI.jpg Ilustrasi: Okezone

JAKARTA – Saat rezim Soeharto, Indonesia tenyata pernah mengirim sejumlah utusan kepada Tim Mossad ke Israel. Tujuannya adalah melatih kemampuan intelijen mereka, yang nantinya berguna untuk melacak Partai Komunis Indonesia (PKI).

(Baca juga: Bersimbah Darah, Hendropriyono Berhasil Lumpuhkan Gembong PKI Paling Ditakuti)

Hal ini diungkapkan oleh Dan Raviv dan Yossi Melman, dua wartawan berdarah Israel dalam buku berjudul Evey Spy a Prince: The Complete History of Israel’s Intelligence Community.

Saat itu, Indonesia memiliki badan intelijen bernama Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), yang dikepalai oleh Yoga Soegomo.

Mengutip buku Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia karya Kenneth J Conboy, Yoga pada akhirnya dimutasi dan digantikan oleh sosok baru tapi lama, yakni Mayjen Sutopo Juwono.

Menyadur buku karya David Jenkins, Soeharto & Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer di Indonesia 1975-1983, Sutopo pernah terlibat dalam Badan Rahasia Negara Indonesia atau Brani, dan masuk ke dalam kelompok inti.

(Baca juga: Indonesia Pernah Miliki Intelijen dengan Penyamaran Luar Biasa Bernama Hans Hamzah)

Sutopo sendiri memiliki dua bawahan, yang terdiri dari Deputi I Brigjen Poerwosoenoe, bertugas menangani masalah-masalah keamanan negara serta Deputi II Kolonel Nichlany Soedarjo.

Sosok kedua ini ternyata merupakan orang yang cukup penting. Dirinya merupakan orang yang melacak keberadaan sisa-sisa PKI.

“Pada awal 1965, dia (Nichlany) mengawasi pembentukan suatu unit intelijen khusus di tubuh Polisi Militer. Unit bernama Detasemen Pelaksana Intelijen Polisi Militer atau Den Pintel Pom ini memiliki tujuan tidak tertulis untuk melacak jejak para anggota PKI,” kata Ken, lulusan Georgetown University School of Foreign Services yang pernah bekerja di perusahaan konsultan keamanan di Jakarta.

Tahun 1968, Nichlany berjasa dalam pembentukan Satuan Khusus Pelaksana Intelijen atau Satsus Pintel atau populer disebut Satsus Intel. Saat itu, dirinya bekerja sebagai wakil asisten intelijen Kopkamtib.

Latihan mata-mata ini dibantu oleh sejumlah negara. Salah satunya adalah Amerika Serikat (AS ), yang mengirimkan instruktur kawakan Richard Fortin untuk memberikan pelatihan teknik pengintaian dasar.

Tidak hanya AS, Inggris pun juga turun membantu. Tahun 1969, Dinas Intelijen Inggris, MI6, mengirim seorang personelnya untuk memberikan pelatihan cara menangani agen.

Sementara di tahun 1970, warga Inggris Anthony Tingle, juga datang memberikan pelatihan selama empat minggu mengenai teknik pengumpulan informasi.

“Jika paspornya diabaikan, Tingle sebenarnya seorang brigadir Israel berusia 50 tahun dan bekerja untuk Badan Intelijen Israel, Mossad,” lanjut Ken.

Nichlany memaksa untuk belajar di bawah Israel, karena memahami kapabilitas mereka dalam dunia intel, kendati Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik apa-apa saat itu. “Kita akan mendatangkan instruktur dari Israel karena mereka yang terbaik di dunia,” katanya.

Ketika ada peristiwa pembajakan Pesawat Garuda DC 9 di Bangkok tahun 1981, Bakin mengalami reformasi besar-besaran, dan mengalami penyusutan jumlah personil.

Saat Benny Moerdani diangkat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Rakyat Indonesia (ABRI) , Pusat Intelijen Strategis diperluas menjadi Badan Intelijen Strategis (Bais).

Moerdani merasa ada campur tangan rahasia intelijen pemerintah di balik pembajakan Woyla. Hal ini diungkapkan oleh Andi Widjajanto dalam bukunya Hubungan Intelijen-Negara.

“Militerisasi Bakin yang terjadi pada awal pembentukannya ditandai dengan penempatan langsung Bakin di bawah kepemimpinan Soeharto yang dibantu oleh para perwira militer, seperti Soedirgo dan Yoga Soegomo,” tulisnya.

Salah satu agen intelijen Bakin yang dilatih Mossad itu mengenang bagaimana mereka dididik. Selama 15 kali kesempatan, instruktur mengajaknya ke hotel mewah dan menunjuk seorang asing yang duduk sendirian di lobi.

“Saya hanya punya waktu 15 menit untuk mengarang sebuah cerita, memperkenalkan diri dan meyakinkan orang tersebut untuk bertemu lagi dengan saya di lobi jam tujuh malam itu. Jika target menunggu malam itu, saya lulus,” ucapnya, ditulis Ken.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini