Share

Santriwati Jadi Korban Kekerasan Seksual Guru, Psikiater: Dampaknya Panjang

Arif Budianto, Koran SI · Senin 13 Desember 2021 11:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 13 337 2516141 santriwati-jadi-korban-kekerasan-seksual-guru-psikiater-dampaknya-panjang-Ap20BLvUvP.jpg Illustrasi (foto: freepick)

BANDUNG - Dokter Ahli Kejiwaan, Teddy Hidayat menyebut, seorang anak yang menjadi korban kekerasan seksual akan mengalami dampak fisik, psikis, sosial yang bekepanjangan. Sehingga diperlukan penanganan serius agar kondisi anak dapat pulih di kemudian hari.

Hal itu disampaikan Teddy Hidayat menyikapi kasus kekerasan seksual kepada belasan santriwati Pesantren Madani Boarding School di Cibiru, Kota Bandung.

Baca juga:  Bagaimana Nasib 9 Bayi Santriwati Korban Pemerkosaan Herry Wirawan?

Menurut dia, stimulasi seksual dan perkosaan adalah faktor predisposisi terhadap gangguan psikiatrik di kemudian hari. Diantaranya fobia, cemas, tidak berdaya, depresi (rasa malu, bersalah, citra diri buruk, perasaan telah mengalami cedera permanen), pengendalian impuls, merusak, bahkan terjadi bunuh diri.

"Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi akibat kekerasan seksual yaitu, kesulitan mempercayai orang lain, cenderung akan menolak hubungan seksual dengan lawan jenis dan lebih memilih hubungan seksual sesama jenis," jelas dia, Senin (13/12/2021).

Baca juga:  Guru Pesantren 5 Tahun Leluasa Perkosa Belasan Santriwati, Terbongkar karena Sosok Ini

Menurut dia, anak cenderung mudah menjadi korban, karena anak-anak artinya masih mudah dipengaruhi. Pelaku melakukan upaya intimidasi dan sugesti. Sugesti ditanamkan dan dipengaruhi, kemudian dibisikkan ke telinga korban bahwa murid harus taat pada guru.

Hal itu dilakukan terus-menerus, sementara korban hidup di lingkungan tertutup atau terisolir selama bertahun- tahun.

"Kondisi ini akan mempengaruhi perkembangan kepribadian dan pemikiran korban kearah patologis. Salah satu gangguannya disebut stockholm syndrome, yaitu gangguan psikiatrik pada korban penyanderaan yang membuat mereka merasa simpati atau bahkan muncul kasih sayang terhadap pelaku.

Intervensi terhadap korban kekerasan seksual pada anak dilakukan pada pihak-pihak yang berhubungan dengan anak. Juga kondisi fisik termasuk penyakit menular seksual dan HIV dan gangguan jiwa harus dilakukan penatalaksanaan.

"Intervensi psikis tidak hanya dilakukan sekitar peristiwa itu terjadi, tetapi diperlukan pendampingan sepanjang hidupnya meliputi mengembangkan strategi koping, terapi perilaku, psikoterapi, latihan keterampilan sosial dalam lingkungan yang aman," beber dia.

Bayi-bayi yang tidak berdosa terlahir akibat kekerasan seksual ini juga harus diselamatkan oleh keluarga, karena keluarga merupakan inti perlindungan pada anak. Korban harus tetap mendapatkan haknya untuk sekolah. Guru dapat bekerja sama dalam tim lintas profesi mulai dari upaya pencegahan penyembuhan dan rehabilitatif daam hal krekerasan seksual pada anak melalui pembelajaran.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini